Hari Pangan Sedunia

Saya coba cari tahu berita dari portal resmi tentang Hari Pangan Sedunia. Tantangannya adalah penuntasan gizi buruk. Ketersediaan lahan menjadi isu penting. Menurut tirto.id, khusus Indonesia ada 9,52 juta hektar lahan rawa di antaranya bisa dikembangkan untuk pertanian. Potensi ini lebih luas dibandingkan lahan sawah irigasi yang hanya seluas 8,1 juta hektar.

Sementara ketersediaan pangan dunia juga meningkat tajam. Pertambahan jumlah penduduk yang semakin tahun tidak terbendung. Artinya dengan luas lahan terbatas, mendatang perlu dicarikan alternatif sumber pangan yang tidak tergantung pada luasan lahan.

Apakah ini mungkin? Mungkin saja, tetapi kebutuhan pangan dunia lebih cepat ketimbang pertambahan luasan lahan atau pertambahan produk pangan dunia. Alhasil banyak bencana. Kelaparan hingga peperangan merebutkan lahan pertanian.

Indonesia sebagai salah satu negara agraris yang sangat dikenal dunia dengan kesuburan alamnya seharusnya menyiapkan diri terhadap ekspansi negara lain. Sangat mungkin Indonesia ke depan menjadi rebutan bangsa-bangsa lain.

Jika mengingat proses hari pangan sedunia yang berawal dari konferensi FAO ke-20, pada bulan Nopember 1976 di Roma, yang menghasilkan dicetuskannya resolusi No. 179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia). Pada konferesi FAO tersebut (konferensi FAO ke-20). Waktu itu Dr. Pal Romany (Menteri Pertanian dan Pangan Hongaria) lebih dulu mengusulkan ide perayaan Hari Pangan Sedunia, karena memprediksi keadaan dunia ke depan. Resolusi ini kemudian disetujui oleh 147 negara anggota FAO (Food and Agriculture Organization) termasuk Indonesia, yang memutuskan bahwa mulai tahun 1981 semua negara anggota FAO akan memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) setiap tanggal 16 Oktober.

Saya sangat menyayangkan jika pemerintah Indonesia abai terhadap isu ketersediaan pangan ini. Maka tanggal 16 Oktober kemarin perlu diingatkan kembali bahwa ke depan ada krisis yang sangat besar jika tidak disiapkan sejak dini.

Saya menghimbau kepada diri pribadi dan masyarakat untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang sudah disajikan. Masih banyak orang-orang dari belahan lain yang membutuhkan makanan. Masih banyak bencana kelaparan. Masih banyak kesulitan makanan. Maka penting untuk diingat bagaimana bangsa-bangsa di Eropa membatasi jumlah pangan untuk dikonsumsi habis bukan hanya lantaran memiliki kelebihan dana sehingga bisa memesan dan menyisakan makanan seenaknya. Ingat, ada hak orang lain.

Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa hidup sendiri. Bergotong royong dan saling berbagi menjadi kehidupan manusia yang menjanjikan di kemudian hari.

Kang Yudha

Sumber gambar: http://www.markijar.com/2015/10/hari-pangan-sedunia-lengkap-makna-dan.html

Please follow and like us:
error

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis delapan belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *