Menanamkan Akidah dan Iringan Doa

Seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah,  sebagian orang menganggapnya anak itu seperti lembaran kertas kosong putih, orang tuanyalah yang akan berperan untuk memberikan warna, membuat gambar atau lukisan pada kertas tersebut.

Ada juga yang berpendapat bahwa anak itu adalah seperti piranti lunak yang sudah terisi program lengkap dari sang Maha Pencipta, tinggallah orangtuanya yang menstimulasinya, menghidupkan program yang sudah terpasang dalam diri anak mereka. Akan seperti apa anaknya kelak tergantung program apa yang dinyalakan

Bukankah Allah mengisyaratkan dalam Alquran

<em>Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya</em>. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).

Lalu bagai mana dengan lingkungan? Apakah lingkungan memiliki peran dalam  pembentukan karakter anak?.

Bisa dipastikan bahwa tidak ada satu orang tua pun di dunia ini menginginkan anaknya rusak (nakal) secara prilaku, sengsara dalam kehidupan. Pastinya orang tua ingin anaknya menjadi anak yang baik dan hidup dengan senang.

Nyatanya tidak semua jerih upaya orang tua dalam mendidik anak mendapatkan hasil yang signifikan, orang tua jungkir balik mencari sekolah terbaik untuk memberikan  bekal bagi kehidupan anaknya,

Kemudian ada apa dengan potret remaja kita? Banyak yang terjadi di luar sana bahkan di lingkungan sekolah yang  seharusnya bisa menjadi tempat untuk menghidupkan tombol program kebaik yang telah ada dalam diri anak atau memberikan warna warna indah dalam kehidupan mereka justru menghasilkan kebalikannya. Kenakalan remaja kian meningkat

Kapolda Metro Jaya, Irjen Putut Eko Bayuseno, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (27/12) mengatakan kenakalan remaja  mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pada tahun 2011 tercatat ada 30 kasus, sementara tahun 2012 terjadi 41 kasus. “Artinya naik sebanyak 11 kasus, atau meningkat 36,66 persen,” tegasnya.

Gempuran yang sangat dahyat sesungguhnya telah terjadi disekitar kita, bahkan terjadi di rumah kita, lewat program televisi maupun kemudahan akses internet. Gempuran terhadap harapan akan anak remaja yang memiliki nilai nilai kebaikan.

Tidaklah mungkin seorang anak akan hidup dengan memengang nilai nilai kebaikan berupa norma kesusilaan ataupun ajaran agama bila setiap harinya yang ditanyakan adalah berapa capaian nilai akademiknya. Tidaklah akan terbentuk rasa malu melakukan keburukan bila membiarkan anak untuk mencapai prestasi dengan menghalalkan segala cara.

Lalu ada apa dengan para orang tua, para guru, dan para pemangku kebijakan ?, kita selaku orang dewasa perlu melihat kembali mungkin  ada yang tidak sinkron antara harapan dengan pola asuh, ada yang tidak sesuai antara tujuan dari pendidikan yang hendak dicapai dengan program yang diberikan. Perlu sama sama mengevaluasi tentang ini semua, karena kita tidak selamanya berada bersama dan berada dekat dengan anak anak kita, berharap keyakinan ini dapat tertanam pada diri mereka dan mereka mampu secara mandiri menjaga diri mereka sendiri.

Perlu kiranya kembali ke hal mendasar dari sebuah penjagaan terhadap anak anak kita, yaitu menanamkan akidah keimanan kepada Allah, kepada malaikat Allah dan hari akhir. Meyakini  bahwa<strong> Allah Maha melihat</strong>, dan kita sebagai mahluk ciptaannya takkan luput dari pengawasan-Nya. Ada malaikat yang akan mencatat perbuatan kita, sekecil apapun yang kita lakukan akan dicatatnya dan akan adanya hari akhir untuk membalas segala apa yang telah kita perbuat.

Pada akhirnya orangtua hanya bisa mengiringi anak-anaknya dengan doa, Doa untuk kesuksesan dan keselamatan dalam setiap ayunan langkah dalam menyusuri kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *