Sebutir Kelapa Hijau

Sebutir kelapa hijau menemaniku menyaksikan sang surya yang sebentar lagi tenggelam. Tepat di garis laut yang teduh dan damai. Masih ada sekawanan burung laut pulang ke sarang yang entah berada di mana. Mungkin di hutan pinggir bukit dengan hutan rimba yang semakin gundul. Mungkin masuk lebih ke dalam, menyembunyikan kediamannya agar tidak diburu orang. Mungkin juga di sepanjang garis pantai, jika sewaktu-waktu terusik akan mudah pergi ke lain tempat.

Sebutir kelapa hijau menemaniku berbicara panjang lebar tentang pendidikan alternatif di Bengkulu. Pendidikan yang berbeda dengan organisasi pemerintah. Tidak dibuat sama antara ruang kelas dan susunan meja bangku yang sudah baku. Letak jendela, letak papan tulis, letak lemari, dan letak meja guru. Semuanya seragam mirip rumah produksi. Mempersiapkan tenaga kerja siap pakai di zaman penjajahan tempo dulu dan sekarang masih sangat populer diwariskan.

Sebutir kelapa hijau menemaniku menikmati dahaga senja. Semilir anginnya sesekali lembut menerpa wajah yang lelah karena perjalanan panjang dan berlabuh sementara di kedai terbuka ini. Kedai beralas pasir dan beratap langit. Di beberapa sudutnya terpasang payung besar sekadar mengurangi sinar matahari yang tidak menyengat ke kulit lagi. Sesekali suara debur ombak memecah di pantai. Sebentar kemudian hilang terbawa angin.

Sebutir kelapa hijau yang segar. Membawa pikiran ini menerawang tentang pendidikan yang tidak biasa. Pendidikan yang ramah anak. Pendidikan yang memberi kesempatan belajar lebih bebas karena dipilih bukan terpaksa. Pendidikan yang memberdayakan menjadi bintang, bukan menjadi pekerja harian. Sebagaimana diceritakan Tere Liye dalam suatu pertemuan. Kisah sebutir kelapa yang mengarungi samudra. Ternyata lebih berarti ketimbang perjalanan burung elang yang melanglang buana atau kisah penyu yang menyeberangi lautan untuk bertelur.  Kisah sebutir kelapa yang ternyata jauh lebih fenomenal. Menyebabkan generasi yang lebih berarti. Bermanfaat untuk umat. Dari akar hingga pelepah, semuanya dimanfaatkan di berbagai bangsa dunia.

Ya, seharusnya pendidikan itu seperti butir kelapa, yang berujung pada kebermanfaatan untuk semua. Manusia dan alam sekitarnya.

Ya, seharusnya pendidikan itu memberdayakan bukan mengerdilkan. Menempa dengan hati untuk dapat berbuat sepenuh hati.

Jangan abaikan sebutir kelapa ini.

 

Kang Yudha

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis lima belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media facebook: Yudha Kurniawan OK dan Instagram: yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *