Anak Laki-laki Kok Menggoreng?

”Ya, Ahmad mau ngapain sekarang?” tanya ibu.

“Menggoreng tahu aja ya, Bu,” jawab Ahmad mulai bersemangat lagi.

“Iya, caranya begini, Nak. Cuci terlebih dulu tahunya. Tahu dibelah dua, pelan-pelan aja potongnya. Setelah itu ditaburi garam sedikit. Kemudian masukkan tahu ke wajan jika minyaknya sudah panas. Memasukkannya pelan ya, Nak, agar tanganmu tidak terpercik minyak,” kata ibu sambil tangannya mempraktikkan teorinya.

Ahmad mengangguk tanda mengerti. Dengan senang, Ahmad mengerjakan semua instruksi ibu. Ibu sendiri memperhatikan di belakang anaknya. Karena ragu dan takut terkena minyak, Ahmad pun mulai melempar tahu ke wajan yang sudah siap dengan minyak gorengnya.

Sreeeeeng…. Tahu lemparan pertamanya mulai menyatu dengan minyak. Percikan minyak tiba-tiba mendarat di tangannya.

“Aaawwwww!” teriak Ahmad.

“Astagfirullah, tahan ya Nak,” kata ibu menenangkan Ahmad sambil mengoleskan cream di tangan yang mulai memerah.

Perhatian terpusat dengan luka Ahmad, sehingga tahu di wajan terlupakan. Tercium bau gosong dari wajan, sang ibu sontak berdiri menghampiri wajan.

Ah, benar sekali kisah dari cuplikan buku Pejuang Subuh. Salah satunya bercerita tentang anak laki-laki yang ingin belajar menggoreng. Laki-laki lo. Terus kenapa? Ada yang salahkah? Memangnya menggoreng itu pekerjaan perempuan saja? Ibu-ibu saja? Lalu bagaimana dengan anak laki-laki yang mandiri, kos sendiri, hidup tidak bersama orang tuanya?

Apakah lantas menjadi aib gara-gara bisa menggoreng?

Mari kita merujuk pada Quran Surat An Nisa: 34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai’ menyebutkan, “Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, lalu istrinya enggan untuk memasak dan mengolahnya, maka istri tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.”

Ternyata yang berkewajiban memasak dan mencuci baju memang bukan istri, tapi suami. Karena semua itu bagian dari nafkah yang wajib diberikan suami kepada istri. Jadi anak-laki-laki juga tidak aib jika bisa memasak.

 

Kang Yudha

 

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis lima belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media facebook: Yudha Kurniawan OK dan Instagram: yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *