Belajar dari Desa Lumindai

Belajar dari Wira Novelita penulis Merajut Cita Cinta dari Desa Lumindai mengingatkan saya pada sekolah di Wamena, Papua. Terutama pemandangan alam yang tidak terganti oleh kemewahan buatan paling hebatnya manusia. Alam memberi rasa yang tidak tertandingkan.

Buku ini mengisahkan perjalanan berat menuju sekolah. Baik oleh siswa maupun pengajarnya. Lokasi yang berada di puncak bukit justru memberi semangat yang luar biasa untuk maju dan terus berprestasi.

*****

Belajar di gedung baru membuat semangat baru bagi siswa dan juga gurunya, karena sudah belajar di gedung sendiri maka mulai dari tahun ajaran baru proses belajar mengajar dimulai dari pagi hari. Walaupun dimulai dari pagi hari tapi jam masuk kami tetap berbeda dengan sekolah-sekolah yang berada di kota. Kalau di kota sekolah masuknya jam 07.30 bahkan ada yang masuk jam 07.00 pagi, tapi bagi kami bel tanda masuk baru akan berbunyi pada pukul 08.00 pagi.

Sekolah masuk pada pukul 08.00 bukan tanpa alasan, tapi karena memang letak rumah siswanya sangat berjauhan dari sekolah. Walaupun sekolah letaknya sangat jauh, tapi mereka tetap semangat menempuh perjalanan ke sekolah dengan jalan kaki karena memang kendaraan umum tidak ada. Kendaraan pribadi hanya dimiliki oleh orang-orang kaya di daerah tersebut saja. Kendaraan umum baru masuk pada hari Rabu dan Sabtu saja, karena waktunya pekan di Sawahlunto. Jadi kalau ada warganya yang akan belanja ke pasar dengan mengharapkan kendaraan umum maka harus tunggu dulu hari Rabu atau Sabtu.

Siswa yang tinggal dari dalam hutan tersebut harus melewati jalan setapak dari rumah mereka untuk sampai ke sekolah. Jangankan mobil, motor saja tidak bisa melewatinya. Perjalanan dari hutan tersebut untuk sampai ke sekolah membutuhkan waktu dua jam. Jadi kalau mereka ingin sampai di sekolah pukul 08.00 pagi, maka mereka harus berangkat pukul 06.00 dari rumah. Tapi jika mereka ingin berangkat lebih awal juga tidak bisa karena sebelum pukul 6 pagi, masih berkeliaran babi-babi di jalan tersebut bahkan ada juga ular dan binatang buas lainnya. Mereka harus berangkat pukul 06.00 dan pulangnya tidak boleh dari pukul 4 sore.

*****

Nah bisa dibayangkan perjuangan mereka sebesar itu. Saya pikir kesulitan yang ada akan memberi kekuatan untuk menumbuhkan semangat baja pantang menyerah. Lalu bagaimana memberi semangat pada siswa dan guru di kota yang segala fasilitasnya sudah tersedia?

Jangan-jangan memang perlu merasakan kesulitan itu, agar tahu pentingnya kerja keras dan memiliki mental baja.

Kang Yudha
Sumber: https://hariansinggalang.co.id/sawahlunto-targetkan-satu-juta-kunjungan-wisatawan/

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis lima belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media facebook: Yudha Kurniawan OK dan Instagram: yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *