PELANGI CINTA DI BALIK RINTIK

Hujan semakin deras. Suaranya berjatuhan membuat melodi  pada atap saung kelas berdinding kaca. Di antara suara rintik terdengar gemuruh halilintar  bersahut-sahutan. Cahaya putih pun mengawali gemuruh petir, bertakbir memuja kepada pemilik 99 Asmaul Husna, Allah SWT.

Siang itu, seorang murid laki-laki memakai kaus hijau dipadankan dengan celana panjang dongker garis merah duduk di ujung bawah anak tangga. Matanya dipenuhi dengan air jernih,  terus memanggil seseorang. Pipi yang membentuk sebuah lesung terwujud ketika ia berbicara.

“Bunda mana? Kenapa Bunda belum sampai di sini, hiks…hiks…”

Id terus memanggil sebuah nama. Bulir kepesedihan terus mengembang. Pakainnya pun sudah mulai, terutama pada bagian ujung celana panjang trening biru dongker yang dikenakan.

“Nak, Bunda terjebak hujan, nanti kalau sudah reda pasti datang,” seorang ibu guru berwajah oriental dan berdarah Sumatera duduk di sisis sambil mengusap punggung Id yang telah kuyup.

“Tapi Bunda lama, hiks…hiks…” ucap Id terisak-isak.

“Id, nunggu bundanya di dalam kelas saja yuk, airnya semakin menyembur ke badan nih,” ajak Bu Na yang masih setia menemani Id. “Sayang, yuk ma…” belum selesai Bu Na berucap, tiba-tiba suara petir menggelar kembali.

“Jeddeeeer… jedeeer…”

“Takuuut…” Id berteriak.

Sontak saja Id memeluk Bu Na yang sedang berdzikir kepada Sang Pencipta Alam ketika gemuruh datang.

Gelegar yang bersahutan itu meluluhkan hati Id, sedari tadi Id tidak mau beranjak dari ujung anak tangga. Hatinya kini mulai bisa melupakan kesedihannya. Id masuk ke dalam kelas dan mendengarkan sebuah cerita Bu Na tentang pelangi. Ia begitu antusias mendengarkan cerita tersebut.

“Bu Na, aku mau lihat pelangi itu,” ucap Id, semangat.

“Nah, kita berdoa saja sama Allah, semoga setelah hujan reda, pelanginya muncul, yuk kita berdoa dulu,” ajak Bu Na. Seperti ada magnet yang menarik hatinya, Id menuruti ajakan bu guru.

“Ya Allah, kata Bu Na, biasanya pelangi datang setelah hujan, aku mau lihat pelangi itu, sekarang aku mau bersabar kok nunggu Bunda datang, aku juga sudah tidak nangis lagi, kabulkan ya Allah,” doa Id.

“Aamiin…” jawab Bu Na dibarengi dengan bening dari ujung kelopak mata yang mulai menuntun ke pipi.

Detak jam terus berputar. Dua puluh lima menit berlalu, hujan pun mereda. Tetasannya kini tinggal gerimis. Suasana dingin pun mulai berganti sejuk. Dengan semangat Id meminta izin keluar kelas, sepertinya ada sesuatu yang ia cari, dari balik jendela, Bu Na mengawasi Id yang asyik bermain di atas permadani alami. Berlari ke sana ke mari mencipta nada-nada dari sepatu bot merah yang menimbulkan cipratan air dari balik rumput hijau.

Beberapa saat kemudian Id berdiri, pandangannya nanar. “Hujannya sudah reda, tapi pelanginya tidak muncul,” gumam Id.

Id berlari kecil memanggil seorang wanita yang sedang mengawasi dirinya dari balik jendela.

“Bu Na, kok pelanginya belum muncul? Aku kan mau lihat pelangi itu,” tanya Id. Senyum di wajahnya hilang sekejap.

Bu Na keluar kelas, ia mendekati Id yang masih terpaku di depan jendela. Wajah yang beberapa saat lalu terlihat bahagia, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Rasa kecewa mulai menudungi hatinya.

“Id sayang,” Bu Na jongkok di hadapan Id. Ia mengambil kedua tangan Id dan menggenggam erat. “Id sedih ya pelanginya tidak muncul?” tanya Bu Na. Id menjawab dengan anggukan kepala. Bu Na menarik dua buah bangku kecil yang ada di dekatnya. Ia lalu duduk dan mengarahkan Id untuk duduk.

Bu Na duduk berdua bersama Id. Saling berbicara sambil memandang daun-daun di sekitar kelas yang masih berhiaskan bulir-bulir hujan. Suasana sejuk pun menyelubingi alam sekitar.

“Id, ketika hujan reda pelangi tidak selalu muncul, ada prosesnya,” jelas Bu Na.

“Tapi, kata Bu Na, pelangi akan muncul kalau hujannya sudah reda?” jawab Id. Wajahnya terlihat mutung.

“Benar sayang, pelangi akan muncul setelah hujan, tapi tidak selalu setelah hujan pelanginya muncul, ada prosesnya,” jelas Bu Na. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan Id.

“Tapi, aku juga sudah berdoa sama Allah, kok Allah tidak kabulkan?”

“Nah, mungkin Id belum sungguh-sungguh memohon sama Allah,”

“Aku sungguh-sungguh kok doanya,”

“Id tadi sempat marah sama Bunda ya?”

“Iya, emang apa hubungannya dengan tidak munculnya pelangi, Bu?”

“Salah satu yang menyebabkan doa kita tidak dikabulkan, jika kita masih punya perasaan marah sama seseorang, apalagi sama Bunda,” jelas Bu Na.

Mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba Id mengangkat wajahnya. Menelisik, memandang wajah wanita yang ada di hadapannya.

“Bu Na benar, tadi aku kesel sama Bunda, aku juga kesel karena hujan, aku mau minta maaf sama Allah dan sama Bunda,” ujar Id sendu.

Mendengar rangkaian kata dari mulut bocah berusia delapan tahun tersebut, wanita berkerung toska itu langsung memeluk tubuhnya.

“Id hebat, insyaAllah suatu hari nanti Allah akan mengabulkan doa Id untuk melihat pelangi yang indah itu,” Bu Na mengusap air hangat dari ujung kelopak matanya.

Pun demikian dengan seseorang yang sedari tadi berdiri di bawah pohon jambu mede yang ada di dekat kelas. Ia menyeka air matanya. Air mata haru percakapan putra tercinta dengan salah satu gurunya.

“Terima kasih Allah, Engkau hadiahkan mata ini untuk melihat kejadian siang ini,” doa wanita bertinggi badan 170 centi meter yang mengenakan stelan tunik dipadankan dengan celana jins hitam.

“Assalamu’alaikum…” ucap Bunda Id.

“Wa’alaikumussalam…” jawab Id bersamaan dengan Bu Na.

“Bundaaa…” Id menubruk tubuh bundanya. “Maafkan Id ya, tadi Id marah sama Bunda,” lanjutnya.

“Iya sayang, Bunda juga minta maaf ya,” sesaat berdua saling berpelukan.

Seiring dengan detik jarum jam yang terus bergerak,  Id  telah kembali ke kediaman, hal tersebut melengkapi kebahagiaan yang kian terpeluk. Id terus bercerita tentang kisahnya bersama rintik hujan tanpa pelangi.

“Terima kasih Bu guru, dan mohon maaf atas keterlambatan menjemput Id,”

“Sama-sama, Bun, tidak apa-apa,” Bu Na dan bundanya Id saling bersalaman. Saling mensyukuri atas rahmat hujan yang Allah Swt. limpahkan.

“Selamat berlibur, semoga harimu menyenangkan, Id, sampai jumpa hari Senin ya,” Bu Na mengacak-acak rambut Id yang berpamitan. Sebaliknya, Id mencium punggung tangan Bu Na penuh ta’zim.

Bu Na memandang lekat punggung muridnya yang sedang berjalan bersama ibunya, bergandengan tangan penuh cinta hingga keduanya benar-benar tak terlihat.

Alam selalu membawa sejuta ilmu bermakna. Belajar meyakini sebuah takdir, apapun itu adalah baik adanya. Id adalah salah satu siswa spesial dengan diagnosis ADHD (Attention Defisit Hiperaktif Dirsoder) yaitu gangguan pada perkembangan perilaku.

Sepekan ini Ibu kota Indonesia diguyur hujan, bahkan seringkali hujan lebat disertai dengan gemuruh petir, terutama pada saat siang hari. Namun, apapun cuaca yang Allah berikan hendak disyukuri. Hujan ataupun panas semua menyimpan sebuah misteri yang harus dipetik oleh makhluk-Nya.

Seperti pagi ini, Bu Na dengan guru-guru lainnya sudah tiba di kelas lebih awal untuk menyiapkan diri dan menyambut kedatangan para calon penghuni surga.

Satu demi satu para pemilik senyum tulus itu datang. Memanggil bapak ibu guru dengan berteriak ketika matanya menangkap dari kejauhan. Dan itu  adalah ciri khas anak-anak.

Bapak ibu gurunya selalu merindu akan hal tersebut. Rindu cara unik yang dimiliki masing-masing individu murid-murid spesialnya.

“Bu Naaa…” teriak Id. Pemilik nama tersebut pun tersenyum.

“Loh salamnya mana?” ujar Bu Na.

“Eh iya, aku lupa,” Id menepuk jidatnya dengan telapak tangan kanannya. “Assalamu’alaikum, Bu Na.” ucap Id.

“Wa’alaikumussalam, Id sholih,” balas Bu Na.

“Bu Na, Bu Na, aku mau cerita sama Bu Na,”

“Oke, tapi letakkan dulu tasnya ya,” Id langsung berlari ke kelas, meletakkan tas pada gantungan yang tertera namanya. Sedetik kemudian tubuhnya sudah ada di hadapan Bu Na.

“Bu Na benar, Allah itu baik, kemarin Id sama Mas Irfan melihat pelangi di depan rumah,” seluruh tubuh Id bercerita tentang kejadian yang dialami Minggu sore kemarin.

“Wah, pasti Id senang ya?”

“Iya, Id senang. Id sama Mas Irfan main bola, Id lihat pelangi,” ujarnya. “Allah baik, Allah kabulkan doa Id,” Binar matanya terus membuat isyarat kebahagiaan.

“Allah itu hebat ya, Bu, kereeen bisa membuat pelangi,” Id terus mengungkapkan kekagumannya terhadap Allah Swt.

“Id, ucapkan apa sama Allah?”

“Alhamdulillah, terima kasih Allah, terima kasih Bu Na, Id sayang sama Bu Na,” peluk Id.

Subhanallah, sebuah kisah bersama pelangi cinta di balik rintik hujan yang mengandung jutaan makna. Tetes airnya tersimpan keberkahan Tuhan alam semesta. Karena banyak alasan mengapa hujan membasahi bumi. Alasan banyak orang yang menyukai hujan, karena hujan itu romantis. Ia akan terus datang mengucurkan rahmat-Nya, meski berkali-kali jatuh dan mengandung misteri Ilahi Rabbi. Bersyukur atas setiap tetesannya adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap hamba-Nya.

Duhai kamu yang dicintai Allah,

Begitu banyak ilmu yang kau ajarkan.

Tentang ketulusan dan kesabaran dalam ketaatan.

Setiap detik, menit, hingga waktu bergulir tahun.

Duhai pemilik cinta tanpa syarat,

Kau ibarat mentari.

Cahayanya menyinari bumi dari pagi hingga senja tanpa pamrih.

Tak peduli orang baik atau buruk menerima sinarnya.

Duhai calon penghuni surga,

Jika suatu saat nanti kau tak menemukan gurumu ini di surga,

Carilah…!

Tarik tubuh ini dengan tiket surga yang kau genggam.

Sambut dengan wajah dan senyum tulus saat kita masih bersama

Sumber gambar: http://cssmora-bs.blogspot.com/2017/02/datang_15.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *