Pentingnya Kecakapan Literasi Baca-Tulis Abad ke-21

Literasi pada umumnya hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis saja. Padahal literasi dinilai dari seberapa jauh siswa bukan saja mengenal aksara (membaca dan menulis), tetapi mampu mengerti dan memahami apa yang dibacanya. Literasi dimaknai sebagai tingkat keberaksaraan siswa yang menjadikannya mampu menerjemahkan kondisi sekitar. Diharapkan mampu juga memanfaatkan potensi alam dan lainnya di sekitar, sehingga kelak dapat meningkatkan taraf hidup baik ekonomi maupun sosial.

Literasi baca-tulis adalah salah satu literasi dasar yang ditujukan untuk mengoptimalkan kemampuan siswa membaca dan menulis. Hal ini terkait dengan kemampuan mempersepsikan, mengomunikasikan, dan menggambarkan informasi dari pemahaman siswa dalam menyimpulkannya.

Mengajar selama 20 tahun di Sekolah Alam Indonesia memberi saya pengalaman berharga yang luar biasa. Merencanakan pembelajaran, membimbing siswa di kelas belajarnya, dan menjadi fasilitator adalah pekerjaan besar. Apalagi geliat literasi yang kental melalui pendekatan saintifik, membuat pengalaman mendampingi siswa semakin kaya. Betapa tidak, kecakapan literasi melalui pembelajaran tematik memberi ruang pengelolaan kelas yang terbatas menjadi berkembang berkali lipat.

Belajar literasi dengan lintas bidang studi dan bersinggungan antara materi satu dengan lainnya yang menghubungkan jembatan sinapsis otak antara dendrit dan akson semakin banyak. Memacu adrenalin kegiatan yang berdampak positif bagi pembelajaran siswa, karena faktor contextual experience-nya langsung dirasa, didengar, dan dilihat siswa. Bukan saja literasi baca-tulis, tapi sekaligus memfasilitasi literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, dan literasi budaya kewarganegaraan.

Sebagai guru, saya harus merencanakan pembelajaran literasi yang berkualitas, terutama dalam literasi baca-tulis. Beberapa sumber pengayaan diperoleh dari sekitar lingkungan tempat tinggal atau sekolah. Paling melekat jika ada peristiwa yang dekat dengan pembelajaran yang akan diterapkan. Biasanya saya mengambil informasi dari beberapa sumber. Bisa melalui media masa, web di internet, atau sosial media.

Misalnya pembelajaran literasi di kelas 5 SD bisa sangat kolaboratif yang temanya saya rancang sendiri. Contohnya tema Jejak Idul Adha di Indonesia menjadi tema pembelajaran literasi yang juga melingkupi bidang studi IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan PKn. Sementara Matematika menjadi bagian pembelajaran yang flesibel. Bisa dikaitkan dengan tema atau dipelajari secara klasikal.

Pada tema Jejak Idul Adha di Indonesia, literasi pembelajarannya sangat variatif. Apalagi jika dihubungkan dengan peristiwa penyembelihan hewan kurban. Pembelajaran tersebut akan menjadi puncak kegiatan yang berkesan. Memberi makna karena siswa ikut terlibat.

Siswa bukan saja mempelajari materi organ pencernaan pada bidang studi IPA melalui beberapa lembar informasi yang disuguhkan sebagai pemantapan literasi bacanya, tapi praktik langsung dengan menjelaskan ulang sebagai asesmen pemahaman melalui literasi tulisnya.

Ada lagi literasi baca yang dilekatkan pada materi keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia pada bidang studi IPS. Tujuannya agar siswa mempunyai wawasan tentang pelaksanaan Idul Adha di Nusantara.

Pada bidang studi Bahasa Indonesia, literasi baca-tulis menjadi sarana kegiatan yang nyata. Guru mengenalkan siswa langsung tentang keragaman sumber belajarnya. Mendengarkan penjelasan dari narasumber tentang proses pencernaan. Membaca artikel terkait dengan intonasi yang benar. Membuat surat penawaran dan undangan sebagai sarana komunikasi dengan pengurban. Selain itu mengapresiasi cerita pendek tentang kurban.

Demikian juga pada bidang PKn. Belajar membuat keputusan bersama yang meliputi prinsip, bentuk, pengenalan musyawarah dan voting, serta hambatannya. Pengenalan diskusi dalam literasi yang memberi pengalaman berargumentasi positif. Sementara penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian pecahan pada bidang Matematika adalah juga literasi yang lebih spesifik.

Melalui tema Jejak Idul Adha di Indonesia ini, guru dituntut menyiapkan pembelajaran yang terpadu, menarik, dan melekat melalui literasi yang komprehensif. Terpadu antara bidang studi pelajaran yang diajarkan lewat kegiatan-kegiatan pada tema bersama. Guru wajib menyajikan literasi baca-tulis yang paling menarik. Siswa mengikuti proses belajarnya dengan totalitas. Baik dalam pembelajaran kelompok maupun individual, sehingga materinya melekat di memorinya dalam jangka panjang.

Di sinilah kecakapan literasi baca-tulis abad ke-21 dengan metode HOTS (higher order thinking skills) yang diperlukan untuk menyiapkan siswa menyongsong revolusi industri 4.0. Bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi yang kuat dan utama sebagai bahasa ibu. Bahasa Indonesia harus dipahami secara sangkil dan mangkus. Kemudian kegiatan belajar difasilitasi oleh pengajaran berbasis teknologi melalui jaringan tematik yang dirancang memiliki hubungan antar bidang studi dan e-library sebagai sumber belajar tanpa batas. Maka yang terjadi semakin lengkap literasi baca-tulis yang disajikan guru.

Artinya ada kelengkapan pembelajaran melalui tiga ranah, yaitu ranah pengetahuan, tahu tentang organ pencernaan, informasi penyelenggaraan Idul Adha di Indonesia, memahami pecahan dan turunannya. Ranah keterampilan, tahu cara mengirim email, menghitung pecahan, berdiskusi melalui musyawarah untuk mencari mufakat atau voting. Ranah sikap, tahu alasan harus menjaga kebersihan hewan kurban, bekerja sama, dan tolong menolong. Ada rasa ingin tahu yang muncul sebagai semangat belajar siswa, sehingga berwawasan.

Literasi baca-tulis abad ke-21 menjadi dasar kecakapan pembelajaran yang lebih berkualitas. Siswa akan memiliki pengetahuan yang mumpuni dari informasi yang disajikan. Siswa mampu mengkritisi dengan argumentasi yang baik dan benar. Tidak asal menyampaikan, tapi bertanggung jawab dengan sumber informasi yang dapat dipercaya. Siswa akan sangat mungkin memecahkan masalah yang terjadi di sekitar dirinya. Memberi alternatif-alternatif solutif yang mampu diterapkan tanpa mencederai orang lain atau pun kebijakan sebelumnya.

Saya percaya bahwa kecakapan literasi baca-tulis abad ke-21 akan dikuti dengan kecakapan literasi lainnya. Saya juga percaya bahwa siswa yang memiliki kecakapan literasi akan memberi manfaat pada kehidupannya, baik kepada dirinya sendiri maupun masyarakat di sekitarnya.

Kang Yudha
Sumber gambar: https://diansano.blogspot.com/2018/05/literasi-baru-bagi-mahasiswa-era.html

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis lima belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media facebook: Yudha Kurniawan OK dan Instagram: yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *