Sayang dengan Kampung Ditinggal Tinggalkan

Dari umur 9 tahun, aku sudah berpisah dengan orang tuaku. Aku tinggal di sebuah desa yang agak jauh dari kota madya. Namaku adalah Faizah. Cita-citaku dulu, ingin meninggalkan kampung halaman. Bak pepatah minang mengatakan “sayang dengan kampung ditinggal tinggalkan”. Dari kata itu aku termotivasi untuk merantau ke daerah Sumatra juga.

Ayahku seorang guru SD yang mengabdi sudah cukup lama. Ibuku seorang penjahit baju dan mengambil upah dari orang lain. Waktu itu, aku diantar oleh ibuku ke daerah baru. Perjalanan kami ke sana memakan waktu dua hari dua malam. Sore itu aku sama ibuku naik mobil bus Taruko. Penumpangnya cukup banyak, sehingga aku duduk hanya bisa nyempil di sela-sela bangku serap. Aku berkata dalam hati, yang penting aku sampai ke tujuan.

*****

Cuplikan buku Cinta Faizah adalah buah karya dari Kelas Bungo tentang perjalanan hidup berpisah dari orang tuanya sejak berumur 9 tahun. Perjalanan yang tidak mudah, yang mematangkan dirinya sebagai anak melalui pengalaman berpisah yang tidak sebentar.

Saya jadi teringat dengan salah satu teman yang juga mengalami pengalaman yang sama dengan tokoh Faizah. Seorang anak laki-laki yang diangkat anak dari keluarga berada di usia sekolah. Tepatnya sekolah dasar. Kelebihan cinta dari orang tua angkat bisa jadi tidak dirasakan, karena sudah memahami arti berpisah dari keluarga intinya. Ada perasaan rindu yang tidak mungkin digantikan oleh orang tua angkat sekalipun. Perasaan yang sulit dikomunikasikan antara anak dan orang lain. Bisa jadi getaran-getaran hatinya tidak satu frekuensi.

Mungkin ada juga yang tidak terluka, karena komunikasinya keduanya baik. Ada hubungan timbal balik antara kebutuhan dan keinginan. Antara perasaan seorang anak dan kasih sayang orang tua, meskipun orang tua angkat.

Saya pernah bertukar pikiran dengan rekan kerja tentang keinginan mengasuh anak yang bukan dilahirkan dari pasangannya. Bukan tanpa sebab perlu tahu prosesnya, karena anak bukan mainan, tapi titipan dari Penguasa Alam, Pemberi Kehidupan.

Anak yang diangkat bukan hanya dipandang dari satu sisi orang tua asuh atau orang tua angkat, tetapi juga perlu dipandang dari sisi si anak. Bukankah anak adalah titipan Yang Maha Kuasa? Jadi pengorbanan yang bagaimana yang perlu diperhatikan? Jangan sampai karena ingin memiliki anak, maka tidak dipeliharanya dengan penuh kasih sayang. Diserahkan kepada baby sitter atau pembantu rumahan. Sore ketika pulang kerja bisa bercanda dengan anaknya. Kemudian esak harinya ditinggalkan kembali dan diserahkan kepada pembantu.

Lalu di mana proses merawatnya? Memelihara anak bukan hanya untuk bersenang-senang semasa aktifnya semata. Namun, orang tua diuji saat sakitnya, saat ngompolnya, saat bersusah-susahnya. Di situlah nilai kasih sayang sejatinya diuji, apakah sudah mampu mencurahkan kasih sayang layaknya orang tua yang melahirkannya atau masih ada barier yang kasat mata.

Kang Yudha
Sumber gambar: http://starberita.com/2018/01/10/ini-metode-perawatan-tubuh-bayi-balita/

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis lima belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media facebook: Yudha Kurniawan OK dan Instagram: yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *