Perempuan Bermata Bening

Suara lembut Fatimah terdengar begitu lirih, tenggelam di antara riuhnya tepuk tangan menyambut kelulusan Bening menjadi seorang sarjana. Bulir kebahagiaan terus mengalir dari kelopak mata, melangit syukur akan keberhasilan Embun menjadi lulusan terbaik Fakultas Matematika salah satu universitas ternama di Jakarta. Bening duduk di antara wisudawan lain, tersenyum bangga dan melambaikan tangan kanan ke arah wanita yang mengenakan pakaian biru senada dengan jilbab, warna kesukaan putri semata wayangnya yang selalu ceria.

Gedung itu begitu meriah dengan segala kebahagiaan dari para wisudawan dan keluargannya. Vokal pembawa acara yang menggemakan seisi ruangan mencipta suasana hening. Suara tersebut berhasil membuat gadis bertubuh ramping dan memiliki tinggi badan 163 cm itu kembali tenang.

Bening berbaju toga, ia nampak jelita. Bibir Bening kembali membentuk bulan sabit, tersenyum bangga mendengar namanya dipanggil mendapatkan predikat terbaik dengan nilai IPK 3,75. Nilai sempurna bagi mahasiswa di Indonesia.

“Terima kasih Allah Swt. terima kasih Bunda, Bening sayang Bunda…”

Suasana begitu syahdu saat gadis berparas cantik itu mengucapkan tiga kalimat dengan terbata-bata dan senyum kebahagiaan. Ucapan terima kasih kepada Sang Khaliq dan kepada wanita yang mencintai dengan jiwa raga. Andai saja Bening gadis sempurna seperti gadis-gadis lain yang berada di ruang itu menjadi wisudawan, mungkin berjuta kata mampu teruntai untuk ibunya. Bening menatap seseorang yang duduk di kursi VVIP, perempuan berusia 45 tahun yang sedari tadi  menitikkan derai kebahagiaan. Dia mengusap air matanya dengan kain merah jambu berukuran 120 cm x 120 cm bertuliskan “Bening sayang Bunda”. Sapu tangan yang dibuat oleh putri kesayangannya.

Tepuk tangan meriah mengakhiri kata salam yang diucapkan Bening. Beberapa yang hadir pun menangis haru mendengar kata singkat tersebut. Ya, seluruh fakultas yang ada di universitas tersebut, terutama Fakultas Matematika mengenal Bening sebagai mahasiswa dengan diagnosa autistic.

“Bunga cantik untuk anak gadis Bunda yang cantik dan hebat,”

“Bunga lili, bunga lili, terima kasih, Bunda,”

Bening meloncat-loncat kegirangan, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah permen dari ibunya. Itulah Bening, meski kini berusia dua puluh satu tahun, tingkahnya seperti anak berusia sepuluh tahun. Si unik ini jika hatinya merasa senang atau pun sedih akan menunjukkan ekspresi berlebih. Mungkin sebagian orang yang tidak mengenal akan merasa aneh jika melihatnya.

Sejenak, Fatimah terdiam, menahan bening di matanya agar tidak keluar lagi, nafasnya tertahan dan menerawang jauh mengingat bagaiamana Bening melewati hari-harinya yang tidak menyenangkan. Mendapatkan cibiran adalah yang biasa menghampiri, lebih menyakitkan ketika orang keluarga terdekat merasa hina akan keberadaannya.

“Terima kasih Allah atas kekuatan-Mu yang sempurna hingga hamba mampu berdiri sampai hari ini, menjadi saksi bahwa di balik kekurangannya berjuta kelebihan yang dimiliki,” Fatimah bersenandhika.

Perempuan bertubuh ramping itu berhasil menghantar anak semata wayangnya menjadi seorang sarjana matematika seorang diri. Berhasil membuktikan kepada mantan suami dan keluarganya, bahwa Bening dengan segala keterbatasannya mampu menjadi anak hebat. Dengan bangga ia menggandeng putrinya mendapatkan penghargaan.

 
Sumber foto: https://www.youtube.com/watch?v=5zyWPQHfEJk

About Dwi Antika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

View all posts by Dwi Antika →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *