Make a Macth

Model pembelajaran make a macth adalah model pembelajaran yang asyik dan menarik. Siswa sangat antusias dalam memainkan perannya dalam mencocokkan pasangan kartu soal dan kartu jawaban yang mereka dapatkan. Suasana belajar memang terkesan ribut, tetapi tetap dalam rambu-rambu aturan bermainnya, dan tetap dalam koridor teratur dan tertib. Ribut di sini adalah ribut dalam pembelajaran bukan ribut dalam artian kacau balau dan tidak terkendali.

Buku tulisan Ibu Guru Yusnita, S.Pd. yang baru saja saya edit mengingatkan saya pada beberapa tahun lalu saat saya berpartner dengan seorang guru enerjik dari UI. Semangatnya luar biasa.

Pada waktu itu kami tidak dibekali dengan beragam jenis metode dan model pembelajaran, tapi eksplor kegiatan belajar yang mengasyikkan dan menyenangkan. Salah satunya adalah model pembelajaran make a macth. Istilah ini baru saya tahu belakangan setelah saya banyak berkecimpung di dunia pelatihan pendidikan, baik melalui jenjang formal di lembaga Akta IV, akta mengajar maupun kegiatan lingkungan yang saya geluti hingga sekarang.

Wajarlah karena latar belakang pendidikan saya adalah pertanian, jadi mengajar perlu sertifikat yang sesuai di dunia yang baru. Saya sepakat dengan itu.

Bersyukur banyak berkecimpung di dunia yang saling bersinergi. Setidaknya ada hubungan erat kegiatan dan pembelajaran berbasis lingkungan dan kontektual. Saya banyak belajar. Terutama dunia coaching.

Khususnya model pembelajaran make a macth ini digunakan untuk memberi kesempatan belajar anak-anak di luar kegiatan belajar formal di kelas. Seringkali kami manfaatkan waktu break (istirahat) mereka. Kartu-kartu kuartet kami sediakan berkelipatan empat. Alhasil, anak-anak bermain secara berkelompok. Metedenya lebih sederhana dibanding yang dijelaskan Ibu Guru Yusnita dari Tanah Datar. Maklum untuk siswa sekolah dasar, jadi diskusinya juga masih seputar tanya jawab yang konkret.

Hampir setiap hari, selesai snack time, anak-anak bermain kwartet yang kami sediakan di pojok kelas. Sengaja, permainan tersebut diletakkan di pojok dan mereka sudah tahu jika selesai bermain akan mengembalikan seperti sediakala. Kami mengapresiasinya.

Setiap pekan, kartu kami tambah sehingga ada banyak catatan di kepala mereka tentang materi belajar yang melekat dan semakin kuat. Ya, harapan kami begitu. Alhamdulillah tidak salah, harapan kami berbuah manis. Anak-anak jadi mengingat materi belajarnya. Namun, masih perlu diuji lagi tentang pemahamannya. Insyaallah kegiatan bermain berhimpitan dengan kegiatan belajar mereka.

Kang Yudha
Sumber gambar: http://www.erwinedwar.com/2017/10/model-pembelajaran-tipe-make-match.html

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis lima belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media facebook: Yudha Kurniawan OK dan Instagram: yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *