300 Detik Melebur dalam 1.440 Menit

Jika ada satu rasa yang boleh dipinta kepada Sang Pembuat Skenario, mungkin aku akan meminta pada-Nya untuk selalu dapat melihat parasnya setiap hari. Namun, ketika lirihku dalam tengadah justru tersentil, berbisik menerobos aliran darah.

“Bersyukurlah wahai manusia bernama IBU akan garis waktu dalam spasi 1.440 menit yang Allah takdirkan untuk merasakan rindu. Rangkailah rindu melalui spasi bernama jarak dan waktu bersama semesta yang akan merengkuhnya menuju kehidupan yang sesuangguhnya. Memberikan jeda kepadanya agar tumbuh menjadi manusia dewasa, berkarakter, kuat, mandiri, dan tabah. Doakanlah, doakan!”

Hari ini, tepat di hari keenam melintasi spasi rindu, rasa bahagia membumbung. Ah, jarum jam sepertinya menjadi primadona. Eng ing eng, detak jam membangkitkan seluruh anggota tubuh agar tak jauh dari telepon genggam, menanti dering ponsel dari yang menjembatani kerinduan kepada si buah hati. “Taraaa… telepon genggam pun berdering. So, hanya 300 detik ya! Manfaatkan komunikasi dengan baik. Mendengar dan sedikit bertanya,” kembali hatiku bergumam.

“Kriiiiiiiiiiiiing…” telepon pun berdering.

“Ibu, aku di sini kalau ke ladang makannya pakai ikan asin dan sambal, padahal kalau ngga ada aku, Emak dan Bapak makanya hanya pakai garam.”

  “Umi, di sini sering masak timun disayur dan labu goreng.”

“Ma, besok kalau ke sini jangan lupa bawain pastel ya, Ibu cerita kalau beliau suka sama pastel.”

 “Bun, di sini hidupnya seadanya, masaknya pakai kayu bakar. Oh ya, Bu, jangan lupa bawa mainan untuk adik-adik ya.”

MasyaAllah, bahasa terindah adalah ketika kita mendengar celoteh buah hati dan huruf-huruf terelok adalah kerinduan yang terbalut doa.

Tiga ratus detik mampu membangkitkan hormon oksitosin meningkat. Tiga ratus detik mampu menjadi penawar mujarab butir-butir kerinduan. Dan tiga ratus detik mampu menyalurkan energi positif dari cerita cinta bersama keluarga barunya.

Tentu kehidupan yang dijalani selama sembilan hari di desa Cipeteuy bersama orang tua asuhnya berbalik 360 derajat dari kebiasaan sehari-hari. Namun, tanpa ragu anak-anak mampu menapaki langkahnya dengan ringan. karena Allah-lah yang menggerakkan hati, langkah, dan pikiran. Menyatukan hati agar terpaut rasa kasih sayang tulus dari si pemilik hati.

Mendengar ceritanya, panas yang bersemayam di mata sudah tak mampu terbendung ketika mendengar suaranya yang hanya beberapa detik. 300 detik telah melebur di dalam 1.440 menit melahirkan bulir kebahagiaan akan proses yang dijalaninya. Anak-anak mampu hidup serba terbatas.

Sejenak aku teringat setiap rangkaian aksara para Bunda, sebuah kidung doa, syukur melangit setelah mendengar cerita cinta dari si buah hati, dan sebuah sungai kecil mengalir di ujung kelopak matanya.

 “Suatu hari nanti anak-anak akan merindukan makan nasi dengan garam pada saat perut merasa lapar dan lelah di pematang sawah dengan semilir angin bersama orang-orang berhati tulus.”

”Terima kasih sekolahku, telah memberi kesempatan pengalaman hidup yang luar biasa kepada anak-anak. Kesempatan menatap lembayung tanpa polusi mengusik.”

“Ya Allah, semoga ruh dan akalnya dan tanggung jawabnya melebihi tubuh fisiknya seperti para sahabat muda sekeliling Rasulullah SAW dahulu, aamiin…”

Yaa Latief, semoga panjat dari setiap lubuk mampu diembuskan oleh angin atas izin-Mu hingga ke peraduan sosok pemikat hati sebelum lahir ke dunia. Dan tuntunlah pertemuan menuju sebuah momen kebahagiaan dari-Mu.

MasyaAllah, bahasa terindah adalah ketika kita mendengar celotehnya. Huruf-huruf terelok adalah kerinduan yang terbalut doa. Dan kesuksesan terhebat adalah seberapa besar manusia menghargai sebuah proses, karena hidup diperlukan sebuah hentakan keyakinan, keteguhan, dan kesabaran.

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…Tiada daya untuk taat, dan tiada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan Allah.”

Please follow and like us:
error

About Dwi Antika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

View all posts by Dwi Antika →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *