Alif Sayang Ummi

Samara sedang menyelesaikan tilawah Al Qur’annya. Pandangannya terhenti tepat pada QS. As Saffat ayat 100, “Rabbi habli minashsholihin”. Samara merasakan kekuatan dahsyat doa yang pernah dilantunkan oleh Nabi Ibrahim as ketika meminta anak shalih kepada Allah SWT. Ingatannya melayang pada situasi hatinya yang ketika menjelang kelahiran Alif justru malah bersedih. Seolah ia tak mengharapkan kehadiran Alif di muka bumi ini. Samara merasakan penyesalan yang begitu dalam atas perasaan yang pernah dialaminya. Betapa saat itu hatinya berkecamuk, antara mempertahankan kandungannya atau membiarkannya luruh bersama darah yang tak hentinya mengalir. Samara sesenggukan , merasakan kesedihan yang luar biasa. Barangkali perasaannya kala itulah yang telah menyebabkan Alif tidak ingin berdekatan dengannya. Ikatan kasih sayang yang lemah telah terjadi sejak Alif dalam kandungan. Ampuni hamba, ya Allah.. pinta Samara dalam hatinya.
Tanpa disadari Samara, tetiba ada sesosok tubuh yang mendekatinya. Meletakkan kepala di pangkuan Samara dan menatap Samara dengan wajah penuh keheranan. Tangan lelaki tanggung iu menyeka air mata di pipi Samara, bibirnya dengan lembut berucap, “ Ummi kenapa? Alif sudah bikin Ummi sedih ya?”
Samara terkesiap, tidak disangkanya Alif telah luluh hatinya, hingga mendekatinya tanpa diminta. Mungkinkah Allah sudah mengabulkan doa-doa Samara? Bukankah memang doa seorang ibu sangat dahsyat, dapat menembus batas logika manusia. Tapi apakah secepat itu? Ah, Samara tak peduli lagi, dikecupnya kening Alif dengan bertubi-tubi. Didekapnya Alif sepenuh luapan rindu yang selama ini telah lama dipendamnya.
“Maafkan Ummi.. maafkan Ummi, ya Nak..” mata Samara kembali berkaca-kaca.
“Ummi memang dulu pernah merasa tidak siap menyambut kelahiranmu. Tapi sekarang Ummi sangat.. sangat menyayangimu.”
Alif menatap Samara, mencari kejujuran pada kedua bola mata umminya. Berusaha meyakinkan diri bahwa rasa sayang Samara akan benar-benar ditujukan padanya dan menetap selamanya di hati mereka.
“Ummi beneran sayang Alif, kan?”
Samara mengangguk dengan sekuat-kuatnya, “ In syaa Allah sekarang dan selamanya, Nak.”
“Ummi gak akan marahin Alif lagi hanya karena gelas yang Alif pecahkan atau air yang Alif tumpahkan?”
“Iya Nak, in syaa Allah Ummi akan berusaha menjadi ummi yang baik buat kalian.”
“Alif juga sayang Ummi juga.. sekarang dan selamanya.”
Dan jika Allah sudah berkehendak membolak-balikkan hati manusia, maka tak ada lagi yang bisa menghalanginya.

Sumber gambar : https://iluszi.blogspot.com/2018/11/foto-ilustrasi-ibu-dan-anak.html

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *