Bahagia di Saat Renta

“Terima kenyataan saja, Nek. Nggak usah terlalu dipikir, malah jadi penyakit nanti”, terdengar suara nasehat seorang ibu tua yang memegang tongkat kepada seorang nenek yang duduk di kursi roda, bersebelahan dengan suaminya.
Nenek yang usianya sekira 70 tahun itu hanya manggut-manggut saja, sesekali diusapnya mata yang sejak tadi berembun.
“Kalau memang Nenek ada yang dirasa sakit, dan putranya nggak mau peduli, nggak mau antar ke RS, Nenek berangkat sendiri saja sama Kakek ”, kembali terdengar suara ibu tua berusaha menenangkan nenek yang sedari tadi saya duduk di depan apotik belum juga bersuara.
“Nenek teh sedih pisan, kumaha yak.. punya anak lelaki satu-satunya malah nggak pernah perhatikan nenek. Padahal nenek dulu selalu memberikan semua yang dia minta. Tapi.. ah, sedih.. “ Oh.. rupanya ketidakpedulian anak yang menjadi sebab kesedihan nenek itu dan memunculkan empati dari ibu tua yang duduk di depannya.
“Nenek sudah makan, belum?” Ibu tua berusaha mengalihkan pembicaraan, barangkali agar lawan bicaranya tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Sepi.. tidak ada jawaban, hanya isak tangis yang kembali terdengar, cukup lirih tapi mengundang perhatian orang-orang di sekelilingnya, termasuk saya. Suaminya yang sedari tadi juga hanya diam, menyodorkan selembar tisu dan menepuk-nepuk punggungnya.
Saya yakin, secuplik kisah yang saya potret dari percakapan sesama lansia di salah satu RS itu bukanlah kisah satu-satunya yang pernah ada. Banyak anak yang ketika masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya, segala kebutuhannya dipenuhi, nyaris sempurna. Bahkan tidak diusik dengan segala beban pekerjaan yang memberatkan, meski usianya sudah beranjak akil baligh. Alasannya hanya satu, orang tua inginkan anak mendapatkan kesuksesan di dunia, sehingga diarahkan berfokus pada sekolahnya saja. Sehingga ketika anak-anak ini telah menyandang status sebagai suami/istri fokus tak beralih dari urusan dunia, yaitu seputar pekerjaannya. Sementara ayah/ibunya yang semakin tua luput dari kepeduliannya.
Jauh-jauh hari Rasulullah SAW sudah mengabarkan kelak akan tiba masanya orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan ibunya seperti tuan memperlakukan budaknya.
“Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Barangkali kini telah datang masa yang diperkirakan oleh Rasulullah SAW itu, di saat anak-anak tidak pernah direpotkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Tangannya bersih, tidak pernah menyentuh piring kotor, tak pernah menjamah baju berlumur sabun, tidak juga paham urusan dapur. Meski saya yakin, sebenarnya banyak para ibu yang merasa lebih senang mengerjakan urusan rumah tangga seorang diri. Tetapi ini bukanlah hanya soal repot merepotkan, sebab ada unsur empati yang dalam dari anak kepada ibunya, ketika mereka mau mengulurkan tangan, sekedar memotong sayuran, mengiris bawang atau merebus daging. Empati pada tahapan terendah yang kelak in syaa Allah akan membuahkan empati yang lebih besar lagi, menolong orang tuanya di saat benar-benar dalam kesulitan. Di sanalah akan muncul bakti yang sesungguhnya seorang anak kepada ayah/ibunya, tidak lagi menganggap ibunya seperti halnya budak yang harus mengerjakan segala urusan rumah tangga anak.
Ada yang perlu kita renungkan dari proses mendidik anak, masih ribuan kalimat doa yang perlu kita lantunkan, ratusan kalimat nasehat yang mesti kita tuturkan pada anak, dan teladan kebajikan yang mutlak kita lakukan untuk menggenapkan ikhtiar menuju keridhoan-Nya.
Semoga Allah meringankan langkah kita menghimpun segenap bakti anak untuk bersama menuju surga-Nya.

Sumber gambar : https://www.hipwee.com/list/mungkin-kalian-lupa-dengan-betapa-indahnya-kasih-orangtua-sadarkah-kalian-dengan-hal-i

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *