Balada Roti Sumbu

“Bunda-Bunda Guru, maaf ya. Cuma ini yang bisa kami suguhi buat melayani tamu istimewa.”

“Subhanallah, Bunda. Ini panganan paling saya suka. Apalagi kalau ditumbuk diberi parutan kelapa ditambah gula pasir secukupnya. Rasanya, gak kalah sama pizza hut. Beneran loh.” Bunda Ita langsung menyerbu roti sumbu rebus.

Sementara saya mencicipi yang digoreng. Ini kesukaan saya. Rasa garing pada permukaan luar membalut renyahnya makanan tradisional, membuat kenangan masa lalu. Ya, kenangan saat kami, keluarga saya tidak memiliki makanan yang siap disajikan.

Waktu itu, ibu saya sakit dan terpaksa dirawat di rumah sakit besar. Ada benjolan di perut bagian kirinya sehingga beliau berada di rumah sakit dalam waktu lama. Saya masih kecil. Hanya bersama tetangga menunggu ibu dari rumah. Sementara ayah harus mendampingi ibu yang keadaannya tidak sehat.
Tetangga saya juga bukan orang berada. Makanannya terbatas. Roti sumbu sering menjadi teman hidangan pagi, siang, dan malam. Saya ditemani Kak Wati, putri sulungnya. Kak Wati termasuk telaten mengurus saya tanpa orang tua selama hampir sebulan.

Ya, saya yang tidak terbiasa makan roti sumbu, monolak memakannya. Namun, Kak Wati dengan sabar membujuk saya makan. Karena lapar, sedikit-sedikit saya makan.

Memang saya tidak suka karena tidak ada rasanya. Hanya sedikit asin dan “nyangkut” di gigi. Biasanya Kak Wati menyuguhi yang direbus. Lunak membuat saya mual.

Suatu kali, Kak Wati membawa roti sumbu yang digoreng. Saya sudah antipasti. Namun, bujukannya membuat saya iba. Saya cicipi saja sedikit sebagai penghormatan kepadanya.

Namun, sesuatu yang beda saya rasakan. Saya suka.

Sejak itu, saya kenal roti sumbu yang nikmatnya selangit. Mungkin Allah telah mencabut rasa mual saya. Alhamdulillah.

“Ustaz. Ustaz.” Panggilan ayahanda orang tua siswa menyadarkan saya dari lamunan masa lalu tentang singkong rebus dan singkong gorengnya.

“Tambah lagi, Ustaz. Memang adanya ini. Saya tanam di depan rumah. Itu pohonnya tinggi-tinggi. Jika Ustaz mau, saya ambilkan.”

“Tidak usah merepotkan, Ayah. Kami datang untuk bersilaturahmi. Sekaligus pihak sekolah membawakan face shield dan masker untuk belajar kelompok seperti yang dianjurkan bapak bupati.

“Iya, Ustaz. Terima kasih banyak atas pemberiannya.” Ayahanda orang tua siswa tampak gembira.

“Oh ya, jangan lupa, nanti ananda hanya membawa bekal makan saja. Sedangakan peralatan belajar dan lembar kegiatan sudah disiapkan bunda guru dan ustaznya. Jangan lupa masker dan face shield-nya dipakai. Tetiba di lokasi berkumpul segera cuci tangan pakai sabun dan cek suhu tubuhnya dengan thermogun. Nanti setelah selesai, ada lembar kerja yang bisa ananda kerjakan selama sepekan. Lembar kerja yang menyenangkan, tidak berat kok. Baru pekan berikutnya berkegiatan kembali.”

“Terima kasih Ustaz.”

“Sama-sama Ayah.”

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *