Berbagi Kebahagiaan

Saya merasa perlu berbagi tentang kisah seorang bidan muda, tulisan seorang guru dari kelas Binjai. Menurut saya menginspirasi di tengah kebahagiaannya, tidak lantas membiarkan orang lain celaka. Pekerjaan yang luar biasa.
*****

Esoknya, pukul 04.00 subuh Tigan dikejutkan oleh gedoran pintu yang begitu kerasnya. Tigan mengira itu adalah kedatangan pekerja salon yang akan meriasnya, maka Tigan bergegas membukakan pintu. Namun bukan pekerja salon yang datang, tetapi beberapa orang yang sedang menggendong seorang bapak yang berlumuran darah di dekat bagian mata kakinya.

Para bapak tersebut adalah warga yang bertugas ronda di malam itu. Bapak yang terluka itu dipapah ke dalam rumah Tigan tanpa bertanya dulu kesediaan Tigan mengobatinya. Tigan bingung harus berkata apa, karena ini adalah hari pernikahannya. Hatinya menjerit bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Bapak-bapak, saya mohon maaf, beribu-ribu maaf Pak. Saya tidak bisa menolong bapak ini, karena saya akan menikah hari ini, pagi ini. Pukul 08.00 acara pernikahan saya akan dimulai. Saya harus segera bersiap,” ucap Tigan memohon.

“Lalu bagaimana dengan Pak Munte ini?” tanya seorang bapak yang menamakan Pak Munte kepada bapak yang terluka tadi.

“Dia akan meninggal jika tidak segera ditolong,” kata seseorang dengan suara gemetar.

Tigan menangis. Ya, dia menangis. Kemudian dia berkata, “Mari kita tolong Pak Munte!” sambil menyeka air matanya.

Tigan memeriksa lukanya, dan menyiapkan segala peralatan medisnya sembari mendengarkan penjelasan seseorang tentang kronologis Pak Munte sampai terluka. Mereka mencurigai hal yang sama dengan yang Tigan pikirkan, Pak Munte digigit seekor ular. Bahkan ular berbisa. Pak Munte hendak memeriksa keadaan di saat anggota ronda yang lain tertidur di pos ronda. Saat itulah tiba-tiba Pak Munte menjerit dan terjatuh. Semua warga yang bertugas ronda malam itu langsung membawa Pak Munte ke rumah Tigan karena seorang bapak di antaranya mengatakan bahwa Tigan akan membukakan pintu pada pasiennya tanpa kenal waktu.

Sungguh tidak tenang hati adik-adiknya yang melihat Ua-nya masih menangani pasien, berniat membantu, tetapi Tigan meminta agar semua adiknya bersiap dan berjanji penanganan itu tidak akan lama. Berkali-kali Tigan melirik jam dindingnya memastikan semuanya akan sempat dikerjakan tanpa mengganggu hari bahagianya.

Tigan berusaha dan berdoa agar dapat menolong Pak Munte dari serangan gigitan ular berbisa. Tigan melihat ada dua buah luka bekas gigi taring menandakan bahwa ular tersebut adalah ular berbisa. Tigan berusaha mengeluarkan racun atau bisa ular dari tubuh Pak Munte agar menghambat laju racun menuju jantung. Pertolongan yang tidak tepat atau pun pertolongan yang terlambat sangatlah memungkinkan akibat yang menyebabkan kematian. Tigan dengan teliti membersihkan luka, kemudian membidai (membalut) luka dengan kasa. Tigan kemudian berlari ke rumah seorang bidan senior yang berjarak sekitar seratus meter dari rumahnya untuk meminta SABU (serum anti bisa ular) yang mungkin tersedia di kliniknya. Beruntungnya Tigan masih ada satu stok suntikan SABU di klinik bidan senior tersebut dan segera pulang ke rumah agar dapat segera menyuntikkan SABU tersebut pada Pak Munthe.

“Panggil saya jika butuh bantuan,” ujar bidan senior padanya.

Tigan mengangguk. Sambil berlari pulang dia melirik ke arah polisi muda yang baru saja tiba bersama dengan keluarganya. Namun tidak sempat menjelaskan apa yang terjadi Tigan tetap berlari. Polisi muda, calon suaminya menyusulnya berlari ke rumah karena khawatir sesuatu terjadi. Kemudian Saragih, sang polisi muda melihat apa yang terjadi, bukannya kesal, tetapi tersenyum bangga.

“Sudah selesai Pak Munte, Bapak selamat,” kata Tigan pada Pak Munte yang dari tadi diam seribu bahasa karena katakutan dan merasa lemas.

“Terima kasih Bu, karena sudah mau menyelamatkan saya,” jawabnya lemah sambil menangis.

“Berterima kasihlah pada Yang Kuasa, Dia yang telah menyelamatkan nyawa Bapak. Saya hanya perpanjangan tangan-Nya saja,” sahut Tigan.
*****

Saya terharu, seorang bidan muda di desa pedalaman bekerja dengan ikhlas. Mendapat bayaran hasil bumi dari masyarakat setempat. Saya terharu membandingkan dengan profesi guru ynag saya tekuni. Kapan lagi bisa berbagi menjadi tenaga sukarela. Bukan karena ingin dinilai dengan sejumlah uang, tetapi kepuasan membantu diterima tulus dengan senyum lebar dan binar mata anak-anak. Saya merindukannya lagi.

Kang Yudha
Sumber gambar: https://kalteng.tribunnews.com/2013/12/28/tenaga-kontrak-disebar-ke-puskesmas-pedalaman-kotim

Please follow and like us:
error

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis delapan belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *