Bertandang

Bukan sembarang bertandang, kehadiran kami ke kediaman orang tua siswa. Program Home Visit yang sudah direncanakan dua pekan lalu, memang memerlukan kesungguhan, terutama menyusuri gang-gang kecil berkelok menanjak di keramaian hunian perkampungan masyarakat Cibinong.

Saya juga takjub, ternyata semakin ke dalam gang semakin padat dan ramai. Banyak penjaja makanan lalu lalang. Warung-warung nasi uduk juga secara sporadis berada di antara hunian yang tidak teratur untuk menyediakan sarapan pagi ala masyarakat pinggiran Jakarta. Masih beruntung, beberapa rumah yang kami singgahi masih memiliki teras dengan pepohonan lumayan rimbun menyuplai oksigen segar. Kami yang berbalut masker memang membutuhkan oksigen agar segar kembali setelah berlama-lama dalam menerobos gang-gang sempit.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikumussalam. Eh Bunda dan Ustaz. Alhamdulillah. Sudah ditunggu-tunggu dari tadi. Nih Ananda sudah heboh sejak tadi menanyakan mana Bunda dan Ustaz Guru. Kok belum datang?” keluh orang tua siswa yang kami kunjungi.

“Masyaallah, Nak. Ustaz dan Bunda Guru berkunjung dengan bergiliran. Sekarang gilirannya Ananda,”jawab kami membela diri.

Ya, memang sudah kami jadwalkan setiap harinya dengan urutan kunjungan dan sudah kami share di group WA orang tua siswa juga. Hanya saja orang tua sering sulit menjawab ketika didesak anaknya.

Saya mendapat kesan yang berbeda kali ini. Program Home Visit, ternyata memberi semangat kepada Ananda untuk bertemu dengan bunda dan ustaz gurunya. Rupanya mereka rindu ingin bersekolah kembali. Belajar bersama teman-teman. Menumpahkan rindu dari libur panjang yang seperti tidak berkesudahan. Covid-19 telah membatasi ruang geraknya. Ruang bermainnya yang selama ini bisa bersekolah dan bermain di taman luas belakang sekolah.

Saya baru menemukan kosa kata baru yang sederhana, tapi mengendap di hati. “Taman Luas”. Ya, itu adalah area luas. Dulu saya suka menyusurinya di seantero kampung yang saya jelajahi, yang kini sulit bisa dilakukan anak-anak zaman now. Saya mensyukuri nikmat itu. Zaman old yang memberi petualangan seru tanpa batas. Membuka cakrawala berpikir luas, tidak terpenjara dengan ketakutan penculikan yang sekarang menggejala.

Ya, dengan bertandang, kami jadi lebih kenal dengan Ayah dan bunda ananda. Bagaimana mereka bersikap terhadap anaknya. Bagaimana kedekatan dibangun. Bagaimana hubungan dengan sekolah bisa selaras. Tentu dengan kesulitan hidup masing-masing.

Kami jadi memahami bahwa pandemi ini telah mengubah nilai perekonomian keluarga, tata nilai hubungan keluarga. Setidaknya kami berempati terhadap kesulitan yang dialami. Bukan saja orang tua, kami pun berdampak.

Sekali lagi selain cerita yang menginspirasi adalah bekal makanan. Pulangnya, kami dipaksa membawa buah tangan. Benar-benar tidak terduga. Setidaknya untuk dimakan ramai-ramai saat kembali tugas. Berkumpul di posko sekolah untuk mengevaluasi kegiatan harian dan mencicipi hidangan yang dibawa masing-masing bunda dan ustaz guru.

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *