Bujang

“Bujang! Hendak ke mana, Nak,” teriak Bundo Eha siang hari bolong.

“Cuma keluar sabanta, Ndo. Aku cari angin di luar. Bosan di rumah terus,” jawab seorang anak berusia sepuluh tahun dengan perawakan kurus hitam yang dipanggil Bujang.

“Kau, tahu, kan? Ini tidak main-main. Virus itu mengganas, Bujang.”

“Iya, Ndo. Aku tahu, tapi aku tidak maulah jadi batu di rumah saja. Rasanya baik-baik saja di sekitar kita, Ndo.” Bujang berusaha mencari alasan.

“Sudah disiarkan berita semalam di tivi. Tidak masukkah ke telingamu, Nak?”

“Perkelahian itu, Ndo? Pekelahian gara-gara Bansos, kan? Yang di Jakarta Utara itu, bukan?” Bujang berusaha meyakinan bundonya.

“Ah, bukan yang itu Nak yang Bundo maksud, tapi total kasus Covid-19 di negara kita. Sekarang sudah hampir lima puluh ribu. Apalagi setelah ada penambahan hampir seribu kasus kemarin. Jakarta termasuk yang besar penularannya.”

“Iya, Bundo. Tapi kita tidak tinggal di Jakarta,” bantah Bujang.

“Kata Amak Zulfikar, Covid-19 tidak akan mempan sama orang yang rajin olahraga, Nda,” sambungnya.
Bondo Eha terdiam mendengar penjelasan anaknya. Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulutnya. Matanya hanya mengikuti langkah Bujang yang segera meninggalkannya. Bundo tidak mau berdebat sementara belum mempunyai sumber informasi yang tepat. Baginya, perkataan Amak Zulfikar sulit dibantah. Salah seorang pemuka adat di Tanah Datar yang sosoknya ditaati masyarakat setempat.

Bondo Eha sebenarnya bukan orang Minang. Beliau perantauan dari Jawa Barat sewaktu ikut orang tuanya transmigrasi ke Sijunjung mencari penghidupan yang lebih bersahabat. Ayah Bundo Eha terkenal gigih dan tekun bekerja. Beliau memaksakan diri membeli lahan tetangga yang dijual murah atau diberikan begitu saja lantaran pulang kembali ke tanah asalnya di Pulau Jawa karena tidak sabar untuk mengelolanya. Ayah Bundo Eha mendapat kelimpahan panen dari keringatnya yang diperas dari pagi buta hingga matahari hampir tenggelam setiap hari. Setelah lima tahun mengelola, kelapa sawit yang dipeliharanya tumbuh subur dan menghasilkan tandan sawit yang berlimpah.

Hingga suatu hari Bundo Eha dilamar pemuda dari Tanah Datar. Teman sekolah SMA-nya di Kota Padang. Mereka hidup bahagia, hingga Bujang lahir. Sayang ketika Bujang berusia empat tahun, ayahnya mendapat musibah. Meninggal karena demam berdarah dengue yang sempat mewabah di daerahnya. Waktu itu musim panas sedang melanda Tanah Datar. DBD merebak di sana. Ayah Bujang salah satu korbannya.

Bundo Eha sudah terlanjur menetap di Tanah Datar dan menyayangi daerah itu seperti di kampungnya sendiri. Dia melanjutkan usaha suaminya sebagai penambang batu gamping. Kandungan mineral litiumnya setara dengan emas. Sisanya dikirim ke pabrik semen.

-bersambung

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

One Comment on “Bujang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *