Cemas

“Masyaallah, kenapa bapak dikuburkan di sini, Bang?” Tangis Luna tidak bisa dibendung lagi.
Hatinya hancur, melihat sekeliling petilasan yang dipandangnya tidak layak. Hanya ada beberapa makam yang masih merah di tengah padang. Lebih tepatnya gundukan bukaan baru. Peristirahatan terakhir berlabel “Tertular Covid-19”.
*****

“Bu, dada saya sakit. Sulit bernapas,” panggil Pak Mansyur kepada istrinya.
Bu Murni segera menghampiri suaminya sambil membawakan secangkir air hangat sebagai antisipasi asmanya yang sering kambuh belakangan ini.
“Ini, Pak. Diminum, ya. Ibu pijitin pundak Bapak, biar legaan.” Bu Murni dengan sigap sudah duduk di samping Pak Mansyur. Tangannya dengan cekatan memijit bahu hingga punggung suaminya. Minyak kayu putih dituangkan dalam telapak tangannya. Sesaat kemudian bahu Pak Mansyur sudah dipijitinya.
“Bagaimana, Pak? Enakan?” tanya Bu Murni pelan.
“Belum, Bu. Makin nyesak.”
“Coba di punggung ya, Pak,” pinta Bu Murni tanpa menunggu jawaban Pak Mansyur.
Wajah Pak Mansyur menegang menahan sakit. Mulutnya dikatup rapat, tidak ingin istrinya panik. Namun, rasa sakitnya sudah terlanjur dirasakan Bu Murni.
Bu Murni menjadi kebingungan. Teringat Bayu, anaknya yang sejak pagi belum kembali. Sementara Luna baru saja kpulang ke kediamannya bersama suaminya. Pikirannya kalut, khawatir Pak Mansyur benar-benar mengamali kesulitan bernapas.
Tiba-tiba, “Assalammualaikum.”
Suara salam dari luar rumah sangat dikenalnya. Arya, anak sulungnya datang. Kesempatan ini membantu Bu Murni lebih lega.
“Arya, masuk sini. Cepat, ya!” panggil Bu Murni tanpa beranjak dari duduknya di dekat Pak Mansyur.
“Arya. Cepat sini!” teriak Bu Murni mulai gugup melihat suaminya semakin sulit bernapas.
“Ya, Bu. Loh kenapa Bapak? Arya bawa ke rumah sakit, ya.”
Tanpa pikir panjang, Arya membawa ayahnya ke mobilnya yang baru saja diparkir tepat di depan rumah. Bu Murni mendamping suaminya duduk di bangku belakang. Arya segera melarikan bapaknya ke rumah sakit terdekat.
“Maaf Pak, IGD sedang penuh. Coba bawa ke rumah sakit sebelah. Semoga ada tempat.”
“Ah, rumah sakit seperti apa ini tidak mau melayani pasien,” gerutu Arya.
“Benar, Pak. Pasien nanti malah tidak terlayani. Lihat itu pasien terakhir masih antre di luar. Padahal harus segera mendapat tindakan.”
Tanpa berpikir dua kali, Arya membawa bapaknya naik mobilnya kembali dan segera meninggalkan rumah sakit itu. Kali ini yang ditujunya adalah rumah sakit yang terletak tepat di persimpangan jalan utama seperti saran perawat tadi. Arya dan Bu Murni tergopoh-gopoh tidak tega melihat Pak Mansyur yang mengalami kesulitan bernapas.

-bersambung

Kang Yudha
Sumber gambar: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190712143646-255-411596/cara-menghilangkan-rasa-cemas-dan-gelisah-berlebihan

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *