Cinta yang Belum Berbalas

Samara mengusap lembut embun yang membasahi jendela kamarnya. Hujan semalam telah membasahi hampir seluruh tanaman hias yang berjejer rapi di halaman depan, pun membasahi sebagian hati pilunya. Kelopak mata Samara kembali turut berembun, memberikan sinyal luka hati yang belum jua terobati. Kedua mata cekungnya hanya bisa memandangi tubuh Alif yang bergerak kian kemari meliuk mengejar Millo kucing kesayangan mereka. Entah sudah berapa kali tangan Samara melambai di belakang jendela, seolah ingin menggapai tubuh Alif. Tangan yang penuh dengan energi cinta, namun tak tersalurkan. Siapa yang bisa meragukan kekuatan cinta seorang ibu pada anak lelakinya? Bahkan seorang Siti Hajar yang hanya tinggal berdua dengan Ismail di padang tandus sanggup berlari puluhan kilometer demi mendapatkan air untuk kelangsungan hidup anak tercintanya.
Tangan Samara kini mengepal demi mendapati Alif tak jua mengalihkan pandangan dari Millo. Betapa Samara sangat ingin memeluk lelaki yang kini beranjak remaja itu dengan segenap cinta. Tapi yang terjadi, Alif tak pernah menyambut cinta dan pelukannya. Seberapapun besar keinginan Samara unuk menumpahkan perasaan yang dipendam bertahun-tahun. Kecuali ketika Alif merasakan pusing hebat yang diikuti dengan kejang seluruh tubuhnya. Saat-saat seperti itulah yang tak akan disia-siakan oleh Samara. Tapi bukankah sudah terlambat? Alif menerima pelukan ketika dalam keadaan tak sadar. Satu hal yang membuat hati Samara semakin gusar. Samara tak ingin Alif hanya merasakan energy cinta saat sedang sakit.
“Alif gak mau dipeluk, gak akan..” terngiang selalu ucapan Alif yang sering diucapkan ketika Samara mendekat dan mengulurkan tangan. Semakin besar keinginan Samara memeluk Alif, semakin besar pula penolakan Alif terhadapnya.
“Sudahlah Ummi, dido’akan saja… in syaa Allah do’a seorang ibu akan menembus langit.”, berkata abi Alif setiap kali menyaksikan mata Samara berkaca-kaca menahan pilu.
“Aku.. aku tak pernah membedakannya dengan adiknya. Setiapkali Reno kubelikan makanan ataupun yang lain, Alif juga pasti kubelikan. Jadi.. jadi.. apa salahku?” terbata-bata Samara mencurahkan isi hati pada suaminya.
“Mungkin memang masih ada tirai yang belum terbuka dari hati Alif. Hanya kepada Allah kita memohon agar dibukakan tirai itu, Ummi.”
Samara hanya mengangguk setiap kali suaminya menyuruh mendo’akan putra sulung mereka. Berharap diantara sekian ratus kalimat do’a yang dilantunkan, ada yang Allah ijabah.
Samara masih menunggu keajaiban demi keajaiban datang. Tak kurang-kurangnya ia mengusahakan perubahan pada diri Alif. Berbagai seminar parenting ia ikuti, berbagai saran para ahli ia jalankan. Samara tak pernah berhenti berharap. Penantian panjang yang belum juga usai, dibentangkan hingga Alif bisa merasa dicintai oleh ibunya.

Sumber gambar : https://www.hipwee.com/list/kasih-sayang-ibu-yang-luput-dari-perhatian-kita-tahukah-kalian-apa-saja-itu/

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

4 Comments on “Cinta yang Belum Berbalas”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *