Covid-19 atau Typhus?

Sore itu udara dingin sekali, kontras dengan cuaca siang harinya yang sangat terik. Selepas magrib, halilintar mulai terdengar. Gemuruhnya kuat sekali. Sesaat kemudian hujan mengguyur dengan derasnya. Rumah mereka termasuk Kampung Sawah basah. Air seperti ditumpahkan dari langit. Ibu dan ayah hanya pasrah menunggu hujan berhenti atau paling tidak reda. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Angin membawa butir-butir air hingga masuk ke pelataran rumah. Suasana mencekam antara keinginan membawa segera Fatir ke klinik dengan menunda besok paginya.

Ibu bersikeras membawa Fatir sore itu juga. Ibu tidak mau jika terjadi yang hal yang tidak diinginkan malam nanti. Paling tidak ada obat untuk mencegah panas Fatir yang semakin tinggi. Ayah meminta waktu beberapa saat. Berharap hujannya tidak sederas sekarang.

Alhamdulillah, sepuluh menit kemudian curah hujan mulai menurun. Rintik airnya tidak sekencang tadi karena angin pun sudah melambat. Mungkin mempersilakan Fatir dan ayah segera beranjak ke klinik.
*****

Benar saja, Klinik sepi sekali. Tidak ada pasien seorang pun. Kelihatannya, berita pasien Covid-19 telah membuat warga Kampung Sawah berhati-hati. Menghindari klinik keluarga yang biasanya menjadi langganan warga di sana. Bahkan belum pernah sehari pun klinik kekurangan pasien. Namun, kali ini berbeda. Klinik seakan kurang bersahabat. Police line dipasang di satu kamar periksa. Sementara selotip kuning ditempelkan bersilang di setiap tempat duduk selang satu kursi. Perawat resepsionis muncul dengan masker dan baju APD (alat pelindung diri) Covid -19 standar pemerintah plus helm dengan kaca plastik selebar wajah.

Ayah menyerahkan kartu BPJS. Kemudian resepsionis menembakkan pencatat suhu badan di kening ayah dan Fatir. Pertama di kening ayah menunjukkan 35,8oC. Kemudian Fatir dengan suhu 39,9oC, naik 0,5oC.

Sederet pertanyaan tidak bersahabat dilontarkan resepsionis klinik.

“Anak Bapak dari luar kota?”

“Tidak, Sus. Sudah sebulan lalu belajar online di rumah.”

“Bertemu dengan orang penderita Corona?”

“Tidak. Hanya main di sekitar lapangan bola dekat rumah.”

“Sejak kapan demannya, Pak?”

“Siang tadi, Sus.”

“Coba periksa darahnya.”

“Siap, Sus. Biar nanti bisa langsung dikonsultasikan dengan dokter juga.” Ayah segera menyambut ajakannya.

Fatir masih gontai berjalan mengikuti ayah ke ruang laboratorium. Tidak terlalu luas. Hanya ada meja panjang dengan serangkaian tabung gelas untuk uji darah. Di pojok ruangan ada kursi pasien yang siap darahnya diambil.

“Coba lengan kirinya ditaruh di atas meja,” kata perawat laki-laki lebih ramah, walau mengenakan seragam APD.

“Sakit sedikit. Tahan, ya.”

Fatir meringis menahan jarum suntik masuk ke pembuluh darahnya. Dengan sedikit menjerit, Fatih memejamkan mata. Ayah mengusap pundak Fatih menyemangatinya.

“Baik, sudah ya. Nanti tunggu tiga puluh menit di ruang tunggu, ya.”

“Terima kasih, Pak,” jawab ayah sambil mengajak Fatir kembali ke ruang tunggu.
*****

“Bagaimana, Dok?” tanya ayah harap-harap cemas.

“Ini typhus, Pak. Ayo makannya dijaga, ya. Musim virus begini, jangan sampai sakit. Jaga kesehatan, ya.”

“Alhamdulillah.” Serta merta ayah berucap.

“Ini saya kasih obatnya. Mudah-mudah cocok. Ada alergi?”

“Gak ada, Dok.”

“Baik, jika obat habis dan belum membaik, datang lagi ke klinik, ya.”

“Siap, Dok.”
*****

“Aduh, gak enak nih.” Fatir merengek di tempat tidurnya.

“Ada apa, Mas?”

“Sakit, Bu. Nggak enak kepalanya. Perutnya juga sakit. Mau muntah.”

“Sabar ya, Mas. Kalau kita sabar, insyaallah Allah akan hapus semua kesalahan kita.”

“Iya, Bu.”

“Coba ingat-ingat, sewaktu kamu main bola itu, apa namanya itu? Free… apa itu?”

“Freestyle, Bu.”

“Nah itu. Mas Fatir makan apa di lapangan?”

“Oh, ya. Waktu itu Fatir makan jajanan kampung, Bu. Habis kelihatannya enak sih. Terus Fatir minum es juga, karena haus banget.”

“Nah, kan. Akhirnya ketahuan penyebab sakitmu.”

“Iya, Fatir mengaku salah. Fatir tidak jajan sembarangan lagi dan akan nurut sama Ibu dan ayah.”

“Mulai hari ini Mas Fatir coba bersabar. Semoga sakit ini menjadi pelajaran buat kita semua.”

“Aamiin.”

selesai

Kang Yudha
Sumber gambar: https://metrojambi.com/read/2020/04/17/52792/pasien-covid19-masyarakat-tak-perlu-paranoid

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *