Dolphin Island

Anda tahu tidak kalau di Pulau Dolphin pernah disinggahi puluhan lumba-lumba? Dulu, sekarang sudah jarang terlihat moncong mulutnya yang berbentuk seperti botol. Saya mendengar cerita Mas Ahmad dengan mata tidak terkejap. Mau tahu? Ya, karena saya membayangkan puluhan bahkan ratusan lumba-lumba berenang melintasi samudra dan mampir di pulau kecil ini, seperti yang pernah saya saksikan dengan mata kepala sendiri manakala melintasi Wakatobi.

Waktu itu perjalanan laut yang sangat panjang yang pernah saya alami. Di bulan Agustus ketika gelombang datar laksana tikar tertiup angin. Nyaris tanpa gelombang. Perjalanan membawa anak-anak usia tanggung mengarungi Kota Kendari menuju Wakatobi. Empat pulau yang sangat terkenal eksotik hingga puluhan pelajar Inggris bersedia berdiam diri di salah satu pulau di depan Pulau Kaledupa. Ya, Pulau Hoga.

Waktu itu puluhan bahkan ratusan lumba-lumba melewati boot kami. Migrasi dari Laut Jepang ke Australia. Melintasi Wakatobi. Saya takjub luar biasa. Kami panggil dengan tepukan dan ternyata mereka menghampiri. Melompat sekali dan menghilang kembali bersama kawanannya. Pengalaman luar biasa.

Kembali ke Pulau Dolphin kami menikmati pasir putihnya dan spot yang sengaja disediakan untuk foto alamnya. Cantik pemandangannya mempesona. Saya sempatkan berenang dengan kacamata snorkel, lumayan banyak ikan sebesar selapak tangan belang putih hitam menghampiri. Mungkin sudah lama tidak dikunjungi wisatawan.

Pasirnya halus nyaris tanpa butir besar. Pecahan karang di bawah permukaan laut juga memberi batas nyata antara pasirnya yang putih jernih dengan lidah ombak yang menjulur di tepian pantai. Ikan-ikan mengikuti saya berenang hingga ke lokasi agak dalam. Tepatnya dekat sebuah kapal yang sedang bersandar di selat dua pulau menarik jala yang mungkin sudah ditebar sejak malam tadi.

Saya sarankan Anda bisa mampir ke sini jika melintasinya. Ada penjaja mie rebus dan air kelapa hijau yang segar menghilangkan dahaga. Saya sarankan juga untuk datang sekitar bulan Desember. Kenapa? Ya, tidak terlalu terik. Masih ada hujan, banyak awan yang melindungi kulit dari sengatan matahari. Mengenai gelombang? Cukuplah. Kisaran 1,5 sampai 2 meter. Saya rasa masih batas aman. Lagian kiri kanan, depan belakang banyak pulau yang menjaga dari hempasan gelombang yang tidak bersahabat.

Coba rasakan sensasinya. Dijamin tak ingin cepat-cepat berlalu.

Kang Yudha

Sumber gambar: https://pulauseribu-resorts.com/?p=6892

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *