Hantu Itu Bernama Kanker

Pekan lalu hati saya diselimuti duka yang mendalam. Untuk ketiga kalinya saya kehilangan lingkaran orang-orang terdekat yang dipanggil ke haribaan Allah SWT. Semuanya didahului dengan penyakit yang sama, kanker. Tahun 2004, di bulan ketiga pernikahan, saya kehilangan ayah kandung, setelah sebelumnya beliau mengidap penyakit kanker paru-paru dan kanker hati secara bersamaan. Tak butuh waktu lama dari sejak dokter mendiagnosis penyakitnya hingga akhirnya nyawa beliau tidak tertolong. Sempat beberapa kali keluar masuk dirawat di RS, dan mengalami fase-fase kritis sebelum akhirnya beliau wafat. Sangat singkat waktu bagi kami, terutama saya untuk berkhidmat merawat beliau di masa sakitnya, tidak lebih dari 6 bulan. Cukup mengagetkan orang-orang di lingkungannya karena beliau dikenal sebagai sosok yang sehat, gagah dan masih bisa mengantarkan ibu saya berobat. Tidak banyak yang mengira jika beliau yang pada akhirnya lebih dulu dipanggil Allah SWT, sebab justru ibu sayalah yang sudah lama mengidap berbagai macam penyakit degeneratif. Tetapi qadarullah, kami sekeluarga harus mengikhlaskan kepergian bapak terlebih dahulu.
Menyusul berikutnya di tahun 2017, kakak perempuan saya juga mengalami garis takdir yang sama. Bedanya pada organ yang diserang, ketika itu kakak saya harus berjuang untuk kesembuhan dari penyakit kanker rahim. Meski sudah dioperasi pengangkatan rahim dan kemoterapi berkali-kali, tetapi kakak saya harus menghadapi takdir yang bernama kematian. Qadarullah, di usianya yang belum mencapai setengah abad, beliau telah kembali pada Rahmatullah.
Dan di tahun ini, tepatnya pekan lalu saya membaca kabar tentang seorang teman, yang selama ini sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Beliau telah berjuang selama kuarang lebih 2 tahun mengalami kanker prostat. Meski tidak menemuinya secara langsung, tetapi saya mengikuti perkembangannya dari jauh. Sempat membaik beberapa waktu yang lalu, sebelum akhirnya beliau kembali ke haribaan Allah SWT.
Kanker, sebuah penyakit yang selama ini sangat ditakuti dan dianggap sebagai hantu di kalangan masyarakat. Karena anggapan sebagian orang bahwa ujung dari penyakit kanker bukanlah kesembuhan melainkan kematian. Hal ini yang terkadang memengaruhi semangat hidup para penderita kanker. Banyak diantara penderita yang kemudian menjadi patah semangat dan akhirnya kondisi tubuhnya semakin buruk. Justru disinilah peran keluarga untuk senantiasa memompakan semnagat bagi kesembuhan para pasien kanker.
Seperti dilansir dari merdeka.com, Dokter spesialis radioterapi sub-spesialis onkologi radiasi, Fielda Djuita justru menyarankan kita untuk meyakinkan orang-orang dengan kanker bisa sembuh dan beraktivitas seperti orang normal yang lain.
Persentase keberhasilan tak lepas dari pada stadium berapa kanker ditangani. Bila kanker ditemukan pada stadium lebih awal, kemungkinan sembuh lebih tinggi dibanding stadium yang lebih tinggi.
“Pada stadium lanjut, sel-sel kanker telah menyebar, sehingga lebih sulit disembuhkan dan cenderung memiliki prognosis yang buruk,” kata Prof. Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro, SpPD-KHOM.
Menjadi bijak bila, kita mengutamakan pencegahan penyakit kanker sejak dini, dengan melakukan pola hidup dan pola makan yang lebih baik.

Wallahu’alam bi shawab

Sumber gambar : https://aceh.tribunnews.com/2019/04/24/catat-ini-20-tanda-awal-kanker-berkembang-di-tubuh-ada-memar-hingga-sulit-menelan?page=4

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

One Comment on “Hantu Itu Bernama Kanker”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *