Hari Santri

Sudah lama santri menjadi peserta didik yang terpinggirkan. Kata siapa? Banyak orang merasa begitu. Terutama dari kalangan santri sendiri. Saya, menyikapinya berbeda. Pendidikan pesantren mengharuskan proses memberdayakan pada santrinya. Setelah tamat, santrinya dapat membuka lapangan usaha baru yang dirinya duduk sebagai pimpinan bukan bawahan. Ini yang justru bertolak belakang dengan pendidikan umum yang membuat siswanya mempunyai kemampuan rigid seragam dan cocok menjadi pekerja tangguh.

Santri berkembang belakangan ini lebih pesat dari tahun-tahun sebelumnya. Pesantren baru bermunculan bagai jamur di musim hujan. Banyak orangtua menginginkan anaknya paham agama. Lebih menginginkan pendalaman agama lebih baik ketimbang keahlian profesional dunia kerja. Tidak ada yang salah. Ini pilihan. Orangtua menginginkan mahkota di surga yang diberikan anak shalaeh dan shalehahnya. Tidak ada yang salah sejauh memiliki harapan yang baik bagi anak, keluarga, dan masyarakatnya.

Saya yang memiliki anak di pesantren juga sekolah formal. Keduanya mempunyai kebaikan. Saya serahkan sepenuhnya kepada anak-anak untuk memilih jalan pendidikannya sesuai keinginan dan tentu hasil dialog panjang. Saya hormati si sulung yang memilih jalur pendidikan kejuruan. Saya hormati di tengah yang memilih jalur pendidikan aliyah-IPA. Saya juga menghormati di bungsu yang memilih jalur pendidikan pesantren.

Saya akui ketiganya mempunyai karakter berbeda dan outcomes yang berbeda. Saya dan istri hanya mengiringi semampu kami. Rezeki mereka sudah ditentukan Sang Pencipta. Paling penting adalah semangat kuat dari anak-anak mencapai tahapan cita-citanya dan jerih payah kami sebagai orangtua untuk mendorong kepercayaan diri mereka, menyiapkan dana pendidikan yang tidak murah, mendoakan keberhasilan dan keshalehan mereka.

Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober menunjukkan pendidikan yang tidak terbelakang, tapi justru alternatif pendidikan masa depan yang siap bersaing dan memberi kepercayaan diri untuk bertahan menjaga nilai-nilai kebaikan Islam yang hakiki. Tidak tergerus oleh budaya baru yang datang begitu deras di era globalisasi tanpa sekat.

Saya berharap dengan doa yang dipanjatkan. Bukan saja anak-anak saya, tapi anak-anak lingkungan saya, baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah, agar mampu bertahan dan menjaga nilai kejujuran, kerjasama, kesabaran, keuletan, dan keluwesan yang masih terbingkai dalam budaya yang lurus, budaya Islam yang mengikuti teladan Rasulullah SAW.

Semoga.
Kang Yudha
Sumber gambar: https://ditpdpontren.kemenag.go.id/web/pengumuman/logo-hari-santri-2019/

Please follow and like us:
error

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis delapan belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *