Histeris

Namun, sesukses Bundo Eha sekalipun, tanpa suami di sisinya seperti merpati dengan sebelah sayapnya saja. Dia membesarkan Bujang seorang diri. Apalagi seusia Bujang sekarang ini. Baginya memberi pengertian kepada anaknya sangat memberatkan pikirannya.

Bundo Eha selalu mengikuti perkembangan Virus Corona yang sejak bulan Maret 2020 melanda Indonesia. Saat ini sudah ada 11 orang positif Covid-19 di Tanah Datar. Maklumat pemerintah daerah benar-benar dipatuhinya. Tidak keluar rumah jika tidak perlu. Cuci tangan minimal 20 detik di air yang mengalir. Memakai masker jika terpaksa keluar rumah dan selalu menjaga jarak minimal satu meter. Namun, ternyata tidak semudah anjuran pada pejabat pemerintah. Masyarakat butuh makan. Butuh bekerja guna mendapat uang. Alhasil dengan anjuran pemerintah pusat yang berbeda-beda membuat masyarakat bingung. Seharusnya PSBB (pembatasan sosial berskala besar) sudah berakhir sebulan lalu. Lantaran tidak tertib dan aturan yang tidak jelas itu, membuat masyarakat sulit ditertibkan. Belum lagi kebutuhan hidup semakin mendesak.

Bundo Eha semakin kecut menyaksikan kejadian itu. Khawatir wabah itu menimpa Bujang, anak satu-satunya. Dia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya lagi. Cukup suaminya seorang saja.
*****

“Ndo, aku main layang-layang bersama Jamal, ya. Dekat, di kampung sebelah,” pinta Bujang kepada Bundo Eha.

“Nak, dengarkan nasihat Bundo. Lebih baik Bujang di rumah saja. Lain kali jika wabah ini sudah mereda, Bujang mau main layang-layang seharian pun tidak mengapa,” bujuk Bundo.

“Aman kok, Ndo. Amak Zulfikar suruh aku banyak bermain agar kuat terhadap serangan Covid.”

“Bujang sudah salat Duha? Kata Ustaz Rusli, salat dapat mengusir Covid. Niatkan berwudu sekaligus cuci tangan dengan baik dan benar,” tanya Bundo Eha.

“Nanti saja, Ndo. Ini sedang terburu-buru. Sudah ditunggu Jamal di simpang jalan raya.”

“Kita coba berikhtiar, Nak.” Bunda Eha pasrah, keinginannya tidak dipenuhi anaknya.

Sebenarnya Bunda Eha lebih sreg dengan petuah Ustaz Rusli. Penjelasannya didekatkan kepada syariah agama yang dianutnya. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan akan menahan penyebaran virus yang mengganas. Ini bentuk dari upaya sadarnya. Tentu, setelah itu berdoa agar dihindari dari bencana Corona. Selebihnya hanya tawakal kepada pemilik alam semesta.
*****

“Ndo, hariko paneh bana, aku tidak enak badan. Kemarin kepayahan mengejar layang-layang sampai ke rumah Pak Amran.” Bujang mengeluh sakit.

“Pak Amran yang kemarin dilarikan ke rumah sakit itu, Nak? Yang kena Covid?” Bondo setengah terkejut memberondong dengan pertanyaan.

“Iya, Ndo. Aku cuma ambil layang-layang aja kok. Minta izin masuk halaman rumahnya. Ada Uni Meri yang membukakan pintu dan langsung aku sangkutkan layang-layang di pohon jambu bijinya dengan ujung galah. Terus aku pamit dan mengucapkan terima kasih sama Uni Meri,” jelas Bujang merunut kejadiannya.

“Kamu indak pakai maskerkah?”

“Mana terpikir, Ndo.”

“Masyaallah, Bujang. Kan, sudah Bundo katakan agar jaga jarak dan selalu pakai masker kalau kamu keluar.” Setengah berteriak Bundo Eha karena panik.

“Aduh, Bujang. Bundo gak mau kehilangan kamu, Nak.” Bundo Eha mulai histeris.

Tiba-tiba, “Bundo, dadaku sesak. Panas, panas, Ndo.” Bujang merintih tidak nyaman.

“Bujang, bagaimana ini. Minum ya, Nak,” bujuk bundo sambil membawakan segelas air hangat.

“Sesak, Ndo. Aku sulit bernapas.” Bujang meronta mencari oksigen.

“Sesak, aku gak bisa bernapas.” Sekejap wajah Bujang membiru dan badannya menegang, setelah itu tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut Bujang.

Bundo Eha menjerit memanggil nama anak semata wayang. Suaranya semakin meninggi hingga pandangannya mengabur.

“Bruk.”

Bundo jatuh dari sofa di ruang tengah. Sambil bergetar masih memanggil Bujang dengan suara tercekik samar.

“Bundo. Bundo kenapa? Kok nangis dan panggil-panggil aku?”

“Bu… jang. Benarkah kamu Bujang? Kamu tidak apo-apo, Nak?” Bundo tidak percaya yang ada di hadapannya.

“Aku baik-baik, Ndo. Bundo mimpi apo sampai jatuh dari sofa?”

“Ya Allah. Lindung Bujang anak Bundo dari wabah ini.”

Kemudian Bujang memeluk bundonya dengan rasa sayang.

Kang Yudha
Sumber gambar: https://pop.grid.id/read/301686279/alami-komplikasi-hingga-koma-lima-bulan-usai-melahirkan-seorang-ibu-menangis-haru-saat-melihat-bayinya-pertama-kali?page=all

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *