Jangan Peluk Aku, Ummi

Alif tercenung. Ada penggalan masa lalu yang masih digenggam erat dalam hatinya. Ada episode yang tak mungkin dilupakannya dari seorang wanita bernama Samara. Seorang yang barangkali seharusnya sangat dekat dengan dirinya, tetapi pada kenyataannya ada barrier pekat yang menjadi penghalang antara mereka berdua. Alif lelah sebenarnya, jika harus memendam sebuah perasaan yang sangat mengganggu hari-harinya. Tetapi ia masih enggan membuka hatinya, bahkan mungkin sebenarnya ia tak mengerti bagaimana seharusnya mengungkapkan perasaan yang dipendamnya bertahun-tahun.
Tumpul. Gelap. Dan ia harus memendamnya sendiri. Meski secara logika, Alif mengetahui Samara tak kurang-kurangnya berusaha mendekati Alif. Dibukanya kembali, lembar demi lembar buku diary yang pernah menjadi teman terdekatnya di kala sedang sedih.

12 April 2012
“Dear diary, aku nggak ngerti kenapa ummi sering banget marah sama aku. Hanya karena masalah kecil, tumpahan air di lantai, atau mangkok yang kupecahkan, ummi bisa memarahiku sepanjang hari. Aku memang orangnya ceroboh, diary.. tapi aku kan juga kesal kalau ummi marah begitu.”

16 Mei 2012
“Aku heran, kenapa ummi sering banget bilang I love you ke adik. Sementara sama aku gak pernah. Huft.. apa memang aku gak disayang ummi ya?”

17 Juni 2012
“Semuanya tentang adik di rumah ini. Aku tuh kayak manusia gak berguna di depan ummi. Terus aku harus gimana?”

18 April 2013
“Diary, rasanya aku udah gak kuat lagi.. Ummi marah terus seharian ini. Sasarannya pasti aku, yang kurang inilah, kurang itulah.”

20 Mei 2013
“ Diary..nyesek rasanya dadaku. Tadi pagi ummi bilang ke aku sambil marah, “Ummi nyesel sudah berhenti kerja demi membesarkan kamu, tapi ternyata kamu gak seperti yang ummi harapkan.” Aku tuh juga gak mau dilahirkan ke dunia ini, diary.. tapi kenapa ummi bilang ke aku kayak aku tuh benar-benar gak berguna. Aku seddiiiih banget diary.”
Sampai di baris ini, Alif tak kuasa membendung tangisnya. Entah apa yang membuat umminya pernah mengatakan hal demikian. Alif merasa bagi umminya lebih berharga pekerjaannya daripada kehadiran dirinya di dunia ini. Alif tak habis pikir, apakah memang benar kelahirannya tak diharapkan oleh ummi dan dinggap sebagai faktor yang menyebabkan umminya harus melepaskan pekerjaannya. Dulu memang umminya pernah bercerita bahwa pekerjaannya telah memberikan segala kebahagiaan, materi, kesenangan, hobby semua ia dapatkan. Hingga kehamilan Alif yang telah memutus kebahagiannya kala itu. Di saat umminya tengah mengandung usia 3 bulan, terjadilah pendarahan yang menyebabkan harus istirahat penuh dari pekerjaannya. Belum lagi memang Samara telah terikat perjanjian dengan suaminya, jika suatu saat hadir momongan di tengah-tengah mereka, maka resign dari kantor adalah jalan terbaik yang harus ditempuh agar mereka tidak lagi menjalani hubungan Long distance Relationship. Jakarta-Bandung memang tidak jauh, tapi harmonisasi hubungan mereka yang jadi taruhannya.
Alif berusaha menghapus airmatanya. Ummi belum pernah juga berusaha mengklarifikasi ucapan yang telah menorehkan luka mendalam di hatinya. Luka yang telah membuat hatinya beku, dan tak ingin dipeluk oleh umminya, seberapapun kerasnya ummi ingin memeluknya.
Jangan peluk aku (sekarang), Ummi.. entah esok atau lusa
Sumber gambar:
https://kartunhd.blogspot.com/2020/08/30-gambar-kartun-ibu-memeluk-anaknya.html

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *