Kaum Pelangi, Kembalilah pada Fitrah!

Seorang lelaki dengan gayanya yang gemulai membuka sebuah acara bincang-bincang di salah satu stasiun televisi. Sekilas masih tampak postur tubuhnya yang kekar dengan lengan padat berisi, seperti kebanyakan lelaki yang rajin mengikuti latihan gym. Tetapi jika diperhatikan lebih seksama, akan terlihat jelas sepasang alis yang bulu-bulunya telah habis dikerik dan sebagai penggantinya ditebalkan dengan pensil membentuk lengkungan tebal. Sebentuk wajahnya sudah dilapisi foundation bedak yang nyaris sempurna menghapus jejak jerawat maupun flex hingga terlihat halus bersih dan mengkilap. Bibir tipisnya menggunakan pemulas berwarna merah muda lembut. Jari jemarinya lentik bergerak menyapu sekitar diiringi dengan suara yang kemayu. Wahai lelaki, kemanakah maskulinitasmu pergi?
Kini semakin banyak lelaki sejenis itu yang bisa kita saksikan tak hanya di layar kaca televisi, tetapi di pusat-pusat perbelanjaan, restoran hingga kampus yang dulu masih dianggap steril. Seorang teman bercerita bahwa organisai kaum pelangi ini berkembang cukup pesat di salah satu kampus universitas negeri terkenal. Mereka bergerak dengan cepat, menyebarkan paham orientasi seksual sejenis ke berbagai sudut kampus. Maka tak heran jika ada diantara penyuka sesama yang berasal dari kalangan terpelajar. Tentu kita masih ingat kasus yang menghebohkan beberapa waktu lalu, Reynhard Sinaga, mahasiswa asal Indonesia di Inggris. Reynhard Sinaga, divonis penjara seumur hidup di pengadilan Manchester, Inggris karena terbukti bersalah memperkosa 48 pria. Bahkan diduga dia telah memperkosa 195 pria selama 2,5 tahun. Semua tidak terjadi secara tiba-tiba, ada proses yang dilaluinya hingga menjadi gay kelas kakap sedemikian dahsyat. Kecenderungan menyukai sesame jenis yang telah ada sejak menjadi mahasiswa di Indonesia, melekat kuat dan mendapat tempat yang mendukung orientasinya ketika berada di Inggris.
Jika saja bibit kecil kelainan seksual ini bisa dideteksi sejak dini, maka orang tua yang peka dengan kondisi dan kebutuhan anaknya sudah seharusnya tanggap untuk mencegah semakin menyimpangnya orintasi seksual. Pada awalnya kebanyakan para penyuka sesama jenis ini mengalami kesalahan pola asuh dari orang tuanya. Tugas kita meluruskan dan mengajak mereka untuk kembali berada pada jalan yang benar. Bukankah Allah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan? Tercatat ada 23 ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang sunatullah manusia diciptakan berpasangan. Diantaranya,

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa : 1)

Maka apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah, semua telah berada dalam hikmah kebaikan yang sungguh sangat luas. Segala yang kita lakukan jika jauh dari garis ketetapan-Nya akan memunculkan kerusakan di muka bumi. Bisa kita saksikan penyakit kelamin yang menjangkiti para penyuka sesama jenis ini, kriminalitas yang merajalela hingga, anak cucu yang terancam dalam bahaya kejahatan seksual. Tidak ada pilihan lain, selain kembali kepada jalan yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW. Para orang tua diharapkan untuk senantiasa memperbaiki hubungan dengan anak-anaknya sehingga mereka tetap berada pada fitrah yang lurus. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sumber gambar : https://tirto.id/sejarah-bendera-pelangi-khas-lgbt-pengganti-simbol-bikinan-nazi-ecqk

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *