Konsep Coaching

Begitu ada tawaran pelatihan coaching dari salah satu grup WA, saya langsung tertarik. Boleh jadi ini ilmu yang melengkapi seorang fasilitator. Pendampingan guru di sekolah alam yang sangat familiar dengan istilah fasilitator, bukan guru, bukan kakak, bukan orang tua. Walaupun peran guru, kakak, dan orang tua melekat di pundak fasilitator-fasilitator Sekolah Alam Indonesia.

Awal bergabung di sekolah ini, saya berkesempatan mengikuti pelatihan fasilitator yang diselenggarakan salah satu LSM terkenal di Jakarta. Namanya menjadi salah satu LSM yang disegani lembaga nirlaba di nusantara. Konphalindo. Sebuah LSM yang banyak bergerak di bidang pendampingan policy (kebijakan) tentang pemberdayaan hutan, sebenarnya. Kemudian menangkap isu pertanian perkotaan yang ramah lingkungan hingga organik murni.

Saya sempat mengikuti pelatihan pertanian perkotaan dengan bingkai organik yang digadang sebagai tren pertanian lahan sempit. Maka orang-orang insist yang memberi pengawalan kami di bawah naungan Roem Patimasang. Seorang Dewa Fasilitator yang mumpuni. Beruntung dua kali mendapat pencerahan fasilitator yang ternyata sangat bermanfaat mendampingi anak-anak di sekolah alam Indonesia yang dididik dengan tidak biasa. Bukan anak-anak sekolah formal pada umumnya.

Maka ketika bertahun-tahun menjadi fasilitator, baru ditawari pelatihan coaching membuat saya merasa, seharusnya fasilitator sekolah alam memahami konsep coaching. Harus, kata saya. Sehingga tidak terjebak pola mengajar umumnya yang dipakai di sekolah umumnya atau sekolah alternatif, tapi tidak paham konsep coaching.

Saya baru mendalaminya sekarang. Pendekatannya ternyata sudah dimulai sejak zaman Socrates, dimana Socrates menggunakan dialog dan pertanyaan untuk mendapatkan wawasan dan kesadaran dari murid-muridnya. Sementara di era modern, coaching lebih menjadi terkenal di area olahraga sampai kemudian muncul tulisan dari W. Timothy Gallwey tentang The Inner Game of Tennis yang mempopulerkan pendekatan pikiran dan peningkatan performa dengan coaching, tetapi diaplikasikan di dunia luar olahraga. Tujuannya mengatur cara berpikir yang simultan agar tidak pecah konsentrasi atletnya. (Coach BasBas and Asosiated)

Maka lahirlah pengertian coach yang dimaksud. Coach sebagai kesetaraan dengan klien (coachee) dalam menstimulasi pikiran dan kreativitasnya. Tujuannya dapat menginspirasi mereka untuk memaksimalkan potensinya baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam karier profesionalnya.

Isi coachnya sendiri, masih saya tunda dulu. Tunggu tulisan berikutnya.

Kang Yudha
Sumber gambar: https://www.clearlyagileinc.com/agile-blog/what-a-scrum-coach-can-do-for-organizations

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

One Comment on “Konsep Coaching”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *