Langit Tak Selalu Biru

“Kau tahu Pram, aku sangat suka melihat simfoni di pagi hari, memandang birunya langit yang menggambarkan luasnya harapan dan cerahnya mentari pagi yang memompakan gairah menyambut hari baru. Ah tapi…”
“Tapi kenapa Andina sayang? Bukankah itu kesempurnaan ciptaan Allah yang mesti kita syukuri “, Pramono memotong kalimat Andina dengan sedikit sapaan ruhiyah.
“…. Tapi kau lihat sendiri, Pram. Sudah sebulan ini langit tak pernah biru lagi. Mentari juga seolah enggan memancarkan cahayanya pada kita..” Andina menggantungkan kalimat terakhirnya, seolah ada perasaan yang sedang disembunyikan melalui serangkaian ucapannya. Sementara di pelupuk mata Andina, bulir-bulir bening siap tumpah hanya menunggu waktu.
Pram segera bangkit dari duduknya, dipeluknya Andina dengan dekapan yang hangat. Dibelainya rambut Andina dengan sentuhan mesra. Dibisikkannya kata-kata lembut di telinga Andina, “Sayangku, kita hidup hanyalah menjalani takdir dari Allah. Jika kita ridha dengan segala garis hidup yang ditetapkanNya, in syaa Allah hati menjadi lapang. “
Tubuh Andina bergetar hebat, isak tangis mulai terdengar dari bibirnya. Serta merta Andina berucap, “Kau.. kau tak pernah merasakan sedihnya kehilangan, Pram!” tajam kalimat Andina seakan hendak menggugat tausiyah Pram yang tadi ditujukan padanya.
Emosi Pram masih datar, sedikitpun dia tak terpengaruh dengan kemarahan Andina. Dibisikkannya kembali di telinga Andina, “Kau lupa sayang? Agustus yang lalu aku baru saja kehilangan ibuku. Kalau kau membandingkan dengan dirimu yang sudah kehilangan bertubi-tubi tentu tak akan sama pengalaman kita. Tetapi kehilangan ibu itu bagaikan kita kehilangan denyut nadi. Ingatan kita yang begitu lekat dengan ibu tak akan bisa hilang meski kita telah ditinggalkannya.”
Andina terdiam. Tak lagi diucapkannya sepatah katapun, meski isak tangis masih sesekali terdengar.
“Allah tak pernah menjanjikan langit akan selalu cerah, Andina. Tapi mendung yang datang in syaa Allah membawa air hujan yang akan menumbuhkan harapan kebaikan.”
Andina kembali terdiam, berusaha memahami nasehat dari Pramono suaminya. Kehilangan bertubi-tubi sejak pernikahan mereka membuat Andina merasakan kesedihan yang mendalam. Sejak ayahnya yang kembali ke rahmatullah di tahun awal pernikahan Andina dan Pramono, kemudian berurut-turut ketiga kakaknya menyusul selama 15 tahun mereka bersama. Kini Andina harus merawat ibunya yang makin renta dan menderita berbagai macam penyakit.
“Nduk.. Andina, kowe ning endi?” suara ibunya kembali memanggil. Sudah hampir setahun ini, nyaris aktivitas Andina lebih banyak dilakukan di rumah. Merawat ibu dan mengasuh kedua anaknya. Terkadang kejenuhan melanda diri Andina, karena ia harus meninggalkan segala kesibukannya di luar demi menemani ibunya yang semakin sering tak mau sendiri di rumah.
Akivitas merawat geriatric bukanlah hal yang mudah, sebab butuh kesabaran yang ekstra besar untuk bisa terus melayani keperluannya. Menghadapi segala ketidakwajaran yang mesti ditoleransi dengan sepenuh hati. Pernah suatu hari, ibu Andina terbangun dari tidur, dengan tergopoh-gopoh mengambil tongkat dan berjalan sembari memanggil Andina dengan sedikit terisak,
“Nduk.. Andina piye iki.. Aku bangunnya kesiangan. Aku belum sholat subuh.”
Andina terdiam, antara ingin tertawa tetapi khawatir menambah dosa, atau ingin menceramahi panjang lebar, tetapi khawatir ibunya tersinggung. Diliriknya sekilas piring kotor bekas sarapan yang belum diangkutnya, kemudian ia berkata, “ Mama.. tadi sudah sarapan kan? Itu bekas piringnya masih ada. Sekarang memang sudah siang, tapi mama tadi sudah sholat subuh, sudah sarapan segala”, ujarnya sembari menahan senyum. Ibunya memang sudah bangun sejak subuh tadi, tetapi usai sarapan tertidur kembali hingga menjelang dzuhur. Sehingga ketika bangun disangkanya belumlah menunaikan sholat subuh.
Tanpa merasa bersalah, ibu Andina berusaha meyakinkan diri, “Oh, jadi aku sudah sholat subuh tho?”
Andina hanya mengangguk pertanda mengiyakan.
Tidak cukup sampai disitu, terkadang muncul juga perdebatan kecil yang tidak bisa dielakkan. Sebab yang namanya orang tua sering menganggap setiap pendapatnya pasti benar. Pun sensitivitasnya yang makin tajam, hatinya sangat mudah merasa tersinggung jika mendengar perkataan yang kurang berkenan. Di sanalah letaknya ladang pahala yang cukup besar, sebab Allah sangat memuliakan para orang tua ini sehingga sedikitpun kita tidak boleh berucap kasar, meski hanya berkata, “Ah”.
Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya Andina memosisikan dirinya antara kepentingan suami, anak dan ibu yang kesemuanya terkadang minta dinomorsatukan. Itu sebabnya Andina sering merasakan gundah, jenuh dan berbagai rasa yang tidak dapat dituliskan.
Tetapi Alhamdulillah, sejak sebulan ini Allah menghadirkan malaikat-malaikat kecil yang belajar mengaji di rumahnya. Menghidupkan kembali suasana rumah menjadi lebih ramai dengan celoteh riang anak-anak balita para tetangga sekitar. Andina menjadi lebih sumringah, menyapa hangat para tamu kecilnya di sore hari. Bagi Andina cukuplah dengan mengajar anak-anak ini, menjadi pengganti segala kesibukannya di luar rumah.
In syaa Allah kehidupan Andina semakin diberkahi Allah dengan segala aktivitas yang barangkali bukanlah amal yang tampak besar di hadapan manusia. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Sumber gambar : https://www.islampos.com/ibu-tua-penjual-kue-1867

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *