Malu dengan Mursi

Mereka menolak saya untuk memiliki salinan Al-qur’an di sel saya, tapi apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa saya telah menghapalnya selama lebih dari 40 tahun. Aku hanya ingin menyentuh Al-Qur’an, tidak lebih. (Muhammad Mursi)

Ketika saya membaca tulisan di atas, tanpa disadari air mata ini keluar, malu, sangat malu ketika bercermin dengan diri sendiri.

Timbul sebuah pertanyaan, bagaimana dengan saya?

Muhammad Mursi adalah seorang kepala negara yang sedang menghadapi ujian dari Allah, yaitu seorang presiden yang tidak lebih dari 1 tahun menjabat lalu mendapatkan kudeta. Beliau saat ini dipenjara hampir 6 tahun. Beliau diangkat menjadi presiden pada tanggal 17 Juni 2012, lalu Allah angkat beliau menjadi syuhada pada tanggal 17 Juni 2019(meninggal).

Beliau adalah seorang hafidz Qur’an. Dimana Al-qur’an selalu berada di hati dan pikirannya sehingga jika beliau ingin membaca surat dalam Al-qur’an tinggal murojaah aja. Tapi apa yang beliau katakan saat dipenjara, beliau masih sangat merindukan untuk menyentuh Al-qur’an. MasyaAllah…

Saat dipenjara, Muhammad Mursi  memiliki permintaan untuk diizinkan membawa mushaf Al-qur’an tapi oleh pihak berwajib disana beliau dilarang untuk membawa mushaf. Tambahlah kerinduan beliau untuk sekedar menyentuh mushaf Al-Qur’an.

Sedangkan kita, hapalan kita tidak ada, syurga juga gak ada yang menjamin, tapi untuk membaca Al-Qur’an saja susahnya MasyaAllah. Padahal mungkin setiap kita pasti memiliki mushab Al-Qur’an lebih dari satu di rumah masing-masing yang terpajang di lemari ruang tamu.

Coba tanyakan dalam hati kita, lebih banyak mana persentase dalam 1 hari, kita menyentuh Handphone atau mushaf Al-Qur’an ?

Lebih banyak mana waktu yang kita gunakan dalam 1 hari, untuk membaca status di media sosial atau berita di media sosial dibandingkan mushaf Al-Qur’an?

Malu..

Sangat malu..

Mungkin kalau kita renungi keutamaan dalam membaca Al-Qur’an seharusnya menjadikan kita rugi untuk berjauhan dengan kalam Allah ini. Sehingga tilawah atau membaca kalam Allah ini menjadi sebuah kebutuhan diri bukan kewajiban saja.

Ramadhan kemarin kita bisa memiliki target tilawah melebihi kebiasaan, ada yang 1 juz,2 juz, 3 juz, 5 juz bahkan lebih, tapi saat Ramadhan pergi dan berganti dengan Syawal bagaimana kabar targetan dan semangat tilawah saat Ramadhan kemarin?

Wallahu’alam

Please follow and like us:
error

About Sulaeha

Saya adalah seorang guru di Sekolah Alam Indonesia. Dan memiliki hobi travelling dan reading. Sedang belajar menuangkan dalam bentuk tulisan tentang hal-hal yang menarik yang saya alami.

View all posts by Sulaeha →

2 Comments on “Malu dengan Mursi”

  1. “Kudeta membuatnya lepas dari kekuasaan, tetapi ingatannya tidak akan terhapus dari hati kita. Umat tidak akan melupakan sikap tegasnya! Beristirahatlah dengan tenang Mursi,” tulis Cavusoglu dalam pesan yang ditulis di akun Twitter miliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *