Mengintip Budidaya Belut

Menyiapkan pelatihan kewirausahaan agribisnis masyarakat seperti sedang memperjuangkan ketahanan pangan yang sekarang sedang menjadi isu sentral bangsa ini. Ya, tentunya pada masyakarat karena dilabel socialpreneur. Ada bisnisnya ada sosialnya. Tantangannya bagaimana bisnis ini berjalan dan bermanfaat untuk masyarakat di sekitar. Apalagi terkait agribisnis yang notabene di negara agraris (katanya red.) tidak dilindungi pemerintah. Masyarakat seperti masuk hutan rimba, yang kuat bertahan, yang lemah siap tersingkir atau diterkam hingga tidak berdaya.

Saya jadi ingat berpuluh tahun lalu terjun di sini. Harapannya masih mencari margin. Tergoda dengan harga jual di pasaran, tapi tidak terlalu cerdas dengan fluktuasinya. Aha, tinggal kenangan mengikuti pasar bebas sebagai pemain pemula. Produktivitas bagus, tapi tidak diserap pasar. Alamak sakitnya tuh sampai ke ujung kaki. Gondok.

Nah, pelatihan kewirausahaan agribinis kali ini menyertakan masyarakat sebagai pelaku sekaligus mitra usaha. Produksinya dibangun berhasil dengan menggandeng pebisnis yang sudah sukses dari Yogyakarya. Pasarnya dicari bersama termasuk pebisnis tersebut. Produknya memang belum popular, tapi punya potensi dikembangan di tingkat masyarakat lebih luas. Membangun brand baru, produk dari belut yang proteinnya bisa diadu dengan hewan lain yang sudah lebih dikenal masyarakat. Daging sapi, domba, ayam, bebek, bahkan beberapa jenis ikan laut dan air tawar yang dikenal masyarakat.

Belut kali ini jadi pilihan yang bisa jadi akan menjadi idola masyarakat karena tiga hal. Nilai proteinnya, rasanya, dan ada pendapatan untuk menambah keperluan keluarga.

Nilai protein belut per seratus gram memang tergolong tinggi, 21,4 gram. Dibanding dengan ikan mas 18,3 gram, lele 14,8 gram, salmon 19,9 gram. Kandungan proteinnya juga lebih tinggi dari protein kacang-kacangan (serelia), setara dengan daging, sedikit di bawah telur. Sangat mudah dicerna tubuh sehingga sangat baik sistem pencernaan bagi balita yang belum sesempurna orang dewasa. Asam amino-nya mendekati asam amino di dalam tubuh manusia. Komposisi asam amino proteinnya lebih lengkap dibanding bahan makanan lain, salah satunya taurin, untuk merangsang pertumbuhan sel otak balita. Setidaknya begitu informasinya dari yang saya googling.

Terkait rasa. Siapa yang tidak ketagihan saat mencicipi belut goreng? Saya termasuk menikmatnya. Citarasa daging belut begitu gurih disebabkan kandugan asam glutamate yang lumayan tinggi. Nah dengan demikian saat proses pemasakkannya tidak perlu ditambah penyedap rasa berupa monosodium glutamate (MSG).

Berhubungan dengan nilai tambah pendapat keluarga adalah budidayanya tidak ribet. Sekali menyiapkan media sekaligus pakannya. Selama empat bulan tinggal kontrol ketersediaan air agar media tidak kering. Hasilnya kalau mau dijual juga punya harga spesial. Lumayan tinggi, mencapai 85 ribu rupiah per kilogramnya. (Lihat saja di online shop).

Nah dengan tiga keuntungan seperti yang sudah saya sampaikan di atas, apakah tidak ngiler nih. Kalau saya sih, yes.

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *