Menguji Proses

“Menurut kalian, saat perburuan batu-batu di sungai kita, batuan apa saja yang akan kita peroleh?”

“Metamorf, Bu!” Fahri spontan menjawab.

“Eit, kamu belum tunjuk tangan. Coba ulangi.”

Fahri kemudian mengangkat tangannya dan mengulangi jawabannya.

“Oh begitu, ya. Baiklah, nanti kita bahas setelah kembali dari sungai sekolah, ya.” Bu Irine membiarkan jawabannya tidak dituntaskan.

Sungai sekolah terletak di depan Kelas Lima Stalagmit. Membelah sekolah dan memisahkan kelas mereka dengan kelas lainnya. Ya, kadang airnya tinggi setelah hujan di malam hari. Namun tidak pernah meluap tumpah airnya ke halaman sekolah. Kali ini air sungai sedang surut. Permukaannya terlihat jelas. Batu-batu yang terbawa arus pun bertebaran di sepanjang badan sungai.

Standar operasi prosedurnya adalah turun ke sungai dengan menggunakan sepatu boot. Anak-anak mempunyai sepatu khusus yang digunakan di seputar sekolah. Maklum, sekolah mereka terletak dekat persawahan masyarakat. Jalan masuknya sering becek karena perubahan pengairan sawah yang digilir petani di malam hari. Mereka punya jadwal mengairi sawahnya agar semua petak sawah terairi dengan cukup.

“Baik, anak-anak. Kalian sudah berjuang mencari batu-batu di sungai. Kini kembali ke kelas, duduk dalam meja kerja kelompok, ya. Kemudian klasifikasikan batu-batu yang kalian peroleh ke dalam tiga kelompok batuan yang sudah kita pelajari.” Bu Irine berdiri di bibir sungai setelah semua anak keluar dari badan sungai.

“Jelas?” tanya Bu Irine uantuk mempertegas pernyataan sebelumnya.

“Jelas!” jawab anak-anak kompak.
*****

“Kelompok Batu Kapur dapat batu granit, batu apung yang dikelompokkan dalam batuan beku. Terus ada batu konglomerat dalam batuan sedimen dan batu sabak yang dikelompokkan dalam batuan metamorf.”
Bu Irine menatap Kelompok Batu Kapur satu-satu.

“Benarkah?” tanyanya ingin menegaskan kebenaran jawaban kelompok tersebut.

“Bukan, Bu!” Suara dari Kelompok Batu Marmer di meja kedua.

“Menurut kalian?” pancing Bu Irine.

Vino yang menjadi ketua kelompoknya segera menjawab, “Batu sabak yang ada di Kelompok Batu Kapur, menurut saya batu basalt yang merupakan bagian dari batuan beku. Penampakkannya mirip, Bu.”

“Oh ya.” Bu Irine minta penjelasan secara tidak langsung.

“Kalau batu basalt itu berwarna abu-abu dan berlubang-lubang sementara batu sabak berwarna abu-abu dan dapat dibelah-belah menjadi lempeng-lempeng tipis. Bedanya tipis, Bu.”

“Coba lihat display batuan ini.” Bu Irine membagi dua display batuan kepada kelompok yang berada di kiri dan kanan Bu Irine berdiri.

“Silakan diamati dan dioper kepada kelompok selanjutnya agar semuanya bisa mengamati batuan mana saja yang kalian peroleh. Setelah itu silakan kalian berkeliling melihat batu-batu yang diperoleh kelompok lainnya. Sudah benarkan dalam penamaannya?”

Bu Irine kemudian melanjutkan, “Sudah diberi nama semua, kan? Jangan lupa pengelompokannya agar teman-teman kalian dari kelompok lain jelas melihatnya.”

Sesaat kemudian, “Ada yang mendapat batuan metamorf?”

“Tidak, Bu!” Anak-anak menjawab bersamaan.

“Menurut kalian, kenapa batuan metamorf tidak kita temukan?” tanya Bu Irine.

“Apa ya, Bu.” Ratih penasaran.

Anak-anak lain pun tidak punya pendapat.

“Baik, mari kita cari sama-sama lewat browsing, ya. Sebentar.”

“Ya, nak. Menurut penjelasannya bahwa batuan metamorf umumnya di bawah kerak bumi. Dibentuk dengan panas tinggi. Lokasinya dalam, Nak. Namun demikian bukan berarti tidak bisa ditemukan, Kebetulan saja di sungai sekolah kita tidak membawa jenis dari batuan metamorf. Buktinya ada batu marmer yang jadi favorit pemilik rumah-rumah mewah.”
*****

“Jadi bagaimana, Nisa? Ikut, kan? Sayang loh. Kelompok kita juga dapat proyek membuat stalaktit dan stalagmit. Jadi pas banget bisa lihat langsung,” bujuh Ratih.

“Sebenarnya aku takut masuk gua, Tih. Aku trauma dengan beberapa kejadian yang diinformasikan di televisi beberapa waktu lalu.”

“Gaklah, Nisa. Kita akan outing ke Gua Jatijajar selepas kunjungan ke Laboratorium Alam Geologi Karangsambung. Kita akan banyaka belajar tentang batu-batuan loh. Aku tahu kamu penasaran, kan.”

“Iya, tapi aku gak mau masuk guanya,” jawab Nisa.

“Justru di gua itu kita dapat pelajaran berharga untuk contoh proyek kita. Jangan sampai proyek kita gagal, Nisa.” Ratih berusaha menyemangati Nisa.

“Gak taulah.”

“Kok gak tau? Gak bisa, Nis. Kalau kamu masih takut, kita bisa minta Bu Irine menjelaskan jaminan keselamatannya. Menurut aku nih, Gua Jatijajar sudah direkomendasikan pemerintah untuk umum. Kalau yang kamu lihat di TV itu adalah gua-gua yang belum mendapat izin. Masih di-explore. Namun, sayang prosedurnya salah.”

“Sok tau kamu, Tih.”

“Itu kata ayahku. Aku juga sempat khawatir kok sewaktu lihat kejadian itu. Tapi ayahku bilang kalau itu memang gua baru dan penelusurannya tanpa peralatan yang sesuai keselamatan,” jelas Ratih memberi keyakinan pada Nisa.

“Ehm.” Nisa terlihat ragu.

“Gak asyik gak ada kamu, Nisa. Lagian kamu juga sudah membawa kesuksesan dapat dananya.”

“Itu, juga kamu ada, ‘wee’.”

“Iya, tapi karena penjelasanmu. Donatur itu mau membiayai kegiatan kita.”

“Deal ya. Aku senang banget kalau kamu ikut, Nisa.”

bersambung –

Kang Yudha
Sumber gambar: https://bobo.grid.id/tag/batuan-metamorf

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *