Menilik Budidaya Ayam Kampung Sederhana

Masih mengenai kewirausahaan agribisnis. Hari kedua Pelatihan Kewirausahaan Ketahanan Pangan Masyarakat adalah budidaya ayam kampung. Budidaya yang sudah dikenal masyarakat turun temurun dalam skala kecil, menengah, hingga industri besar. Ayam kampung banyak berkeliaran di halaman-halaman rumah. Beberapa mengganggu hubungan baik antartetangga karena kotorannya di mana-mana (terutama hamanan tidak berpagar). Belum lagi merusak tanaman muda. Apalagi kalau sampai merusak tanaman kesayangan, tanaman hias. Masih segar dalam ingatan kita, dari revisi KUHP pasal 278 tentang hewan ternak yang masuk lahan orang didenda sebesar 10 juta rupiah. Meme tentang ayam ini beredar di sosial media dengan berbagai versi. Contohnya, ayam apa yang bikin galau? Jawabannya ayamku masuk halaman orang.

Kembali ke unsur usaha, ayam kampung tergolong mudah dibudidayakan dalam industri rumah tangga. Tidak berteknologi tinggi yang sulit diterapkan. Memanfaatkan halaman terbatas dan hampir semua orang suka ayam kampung karena rasanya lebih gurih dibanding ayam negeri. Kalau dibandingkan konsumsi makan ayam se-Asean, Indonesia tergolong kecil 8 kg/tahun. Sementara Brunei 47 kg/tahun dan Malaysia 38 kg/tahun. Artinya nilai kecukupan ortein dari daging ayam sangat rendah. Sementara konsumsi protein hewani di Indonesia paling tinggi adalah ayam ras 53% dibanding konsumsi terhadap ayam kampung 10%. Artinya ayam kampung punya potensi dikembangkan.

Kandang yang diperlukan juga sederhana saja. Tidak perlu mahal. Lantainya sebaiknya ditabur pasir untuk menyerap cairan kotoran agar tidak bau. Jangan lupa memperhatikan sirkulasi udara. Sinar matahari diupayakan tidak alngsung tembus ke ayam. Jadi perhatian selanjutnya tentu DOC (day of chicken) karena mempengaruhi kapasitas kandangnya. Idealnya untuk 10 hingga 12 ekor ayam membutuhkan ruang sebesar satu meter persegi sehingga dalam kurun waktu 75 hari berat badan mengalami pertumbuhan sebesar 0,9 sampai 1 kilogram.

Untuk budidaya ayam kampung agak sedikit ketat. Mengingat penyakit akibat kurang higienis dapat membunuh ayam sebelum jual, maka diperlukan setidaknya tiga hal. Pertama, sterilisasi kandang dengan desinfektan. Kedua, vaksin dan ketiga, pemanas kandang agar ayam tidak kedinginan. Selain itu kecukupan pakan dan vitamin juga diperhatikan. Margin per ekor antara lima ribu rupiah hingga 30 ribu rupiah. Di bawah itu perlu mengevaluasi budidayanya kembali.

Yayasan Maqomam Mahmudah Bogor mengajak masyarakat tumbuh dan berkembang bersama dalam bidang agribisnis. Sekaligus mengembalikan status masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Pabuaran sebagai masyarakat agrarian yang kuat terhadap ketahan pangannya. Semoga aka nada usahawan-usahawan agribisnis dari Pabuaran yang muncul mengawal kebangkitan masyarakat agraris.

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *