Menulis Gaya Pidi Baiq

Siapa saja boleh menulis. Siapa saja bisa menulis. Siapa saja mampu menulis. Tagline-nya yang ditampilkan di layar sebagai pembuka presentasinya sangat menggoda. “Aku adalah imigran dari surga yang diselundupkan ke bumi oleh ayahku di kamar pengantin dan tegang.”

Menurutnya, kreativitas itu sederhana. Keinginan kreatiflah yang menjadikannya sulit. Seorang penulis perlu membedakan antara mengetahui, memahami, dan mengalami. Mengalami akan memberi kekuatan dalam tulisan.

Saya menyimak tentang sikap dirinya yang bebas. Keinginannnya menjadi manusia bebas, yang tidak dikontrol oleh orang lain dan apa saja. Seleranya tidak umum. Karyanya dianggap gagal karena tidak umum. Bahkan ingin menjadi orang yang dilupakan. Popularitas membuat Pidi tidak nyaman. Beliau tidak ingin terbebani dengan karya yang sukses (Dilan). Niatnya hanya ingin totalitas menghasilkan karya.

Tips dalam menulis agar karya kita berbeda dengan orang lain dengan mencari kebalikan ide cerita. Menurutnya pula bahwa yang buruk harus disalurkan kalau tidak akan menjadi genangan. Kalau menulis buruk, bersyukurlah. Artinya yang buruk harus disalurkan. Kreativitas itu jika jawabannya sama dengan umum, maka dianggap menyontek. Eksakta itu, jika jawabannya sama dengan umum, maka dianggap benar.

Rasa penasaran saya membuat saya harus googling tentang biodatanya. Dari https://tibuku.com/biografi-pidi-baiq/ saya dapatkan informasi yang lumayan jelas. Pidi Baiq kelahiran Bandung, 8 Agustus 1972. Sebagai seniman, kemampuannya terus berkembang dengan berbagai talenta. Mulai dari penulis novel, buku, ilustrator, dosen, komikus, musisi, dan pencipta lagu.

Jiwa seniman Pidi Baiq sangat luar biasa. Beragam kemampuan yang dimiliki hingga karyanya banyak dikenal dan disukai banyak orang. Namun, sosoknya memang tidak terlalu terbuka sehingga banyak orang yang juga penasaran bagaimana sebenarnya Pidi Baiq ini di dunia nyata.

Saya juga baru tahu kalau Pidi Baiq ternyata lulusan dari Institut Teknologi Bandung jurusan FSRD untuk mendalami dunia seni. Malang melintang berkelana hingga ke Amsterdam untuk belajar filsafat dan seni. Bahkan Pidi Baiq pernah menjabat sebagai dekan di salah satu jurusan di ITB. Setelah melepaskan jabatannya, Pidi kembali menjadi seniman yang memang sudah menjadi dunianya.

Sifat nyelenehnya saat menjadi pembicara menururt saya menjadi daya tarik yang membuat banyak orang menyukai setiap hal yang dibuatnya.Saya menangkap kejujuran dalam bertutur. Akhirnya dari sekian banyak pertanyaan peserta workshop, saya menyimpulkan bahwa Pidi Baiq tetap konsen terhadap cover dan judul bukunya.

Sebagai penutup sesi ini, Pidi Baiq menyentak saya dengan pernyataanya, “Jangan tanya sama orang kreatif cara membuat jembatan, tapi tanyalah kepadanya cara menyeberangi sungai.”

Kang Yudha
Sumber gambar: Foto pribadi

Please follow and like us:
error

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis delapan belas buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan, 2019), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

2 Comments on “Menulis Gaya Pidi Baiq”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *