Menuliskan Konflik

Workshop kedua masih seputar tulis menulis, karena memang kegiatan ini dikhususkan untuk membuat buku dengan tema Pandemi Covid-19. Ya, kali ini kita akan membahas materi Menuliskan Konflik. Seperti biasa saya mengingatkan atas hak-hak peserta workshop online ini. Yaitu berupa sertifikat menulis, berhak pula mengajukan naskah untuk buku antologi dan mengajukan judul buku. Jika buku telah berhasil mendapat ISBN, maka peserta juga berhak mendapat PDF bar-ISBN. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, seperti mengikuti webinar ini selama empat kali. Jangan bolong-bolong, karena ilmunya saying dilewatkan. Mumpung gratis, tapi gak kaleng-kaleng.

Workshop dibuka dengan kalimat cetar. Menulis yang baik bukan sekadar merangkai kata-kata. Demikian saya cantumkam pada slide untuk memberi pengertian bahwa menulis adalah kegiatan bermakna. Ceritanya harus mampu menggugah emosi pembacanya. Jangan biarkan datar dan tanpa makna. Sayang, pembacanya sudah menyempatkan diri meluangkan waktunya. Jangan sampai mereka kecewa. Pastikan itu.

Slide selanjutnya adalah penjelasan dari konflik itu sendiri. Bahwa konflik adalah pertentangan ataqu ketegangan dalam sebuah cerita. Konflik dapat diangkat dari yang sudah terjadi dalam cerita, baik melalui pengalaman diri sendiri atau pun imajinasi. Saya mendekatkan pada karya saya dari buku Menepis Kabut di Kinabalu. Saya buka dengan kalimat yang bukan sekadar merangkai kata, tapi bermakna. “Mengaduk-aduk media otak menumbuhkan benih-benih ide menjadi volunteer, tenaga sukarela ke tanah seberang.” Kalimat pembuka yang merujuk pada konfliknya saya munculkan di awal cerita. Memang bukan awal sekali, tetapi masih tergolong bab pertama. Dibangun dari kalimat, “Berpikir keras Agung mencari jalan menuju Sabah.”

Slide selanjutnya masih terkait penjelasan konflik. Bahwa konflik cerita pendek tidak serumit novel. Cerpen, biasanya hanya punya satu konflik. Kemudian digali dan didalami agar ceritanya menarik. Sebenarnya konflik yang rumit maupun yang sederhana mempunyai daya tariknya masing-masing. Tergantung dari penulisnya, mau diarahkan ke mana ceritanya. Saya menghubungkannya dengan satu cerita pendek dari buku Melarung Rindu, yang juga memunculkan konflik di awal cerita. Tentang cita-cita dari tokohnya yang tidak pasti. Akhirnya ayahnya mendesak karena terkait anggaran rumah tangga.

Kali ini penjelasan bahwa konflik adalah masalah yang ditimbulkan penulis agar ceritanya tetap bergerak. Maksudnya agar pembaca mencari dan menunggu akhir ceritanya. Kehadiran konflik sangat penting, karena merupakan nyawa sebuah cerita. Cerita tanpa konflik seperti sayur tanpa garam. Saya mendekatkan pada pada satu cerita dalam buku Selaksa Cinta Bunda. Konflik yqang dituliskan Ros Gestasia sangat menyita perhatian pembaca. Bagaimana tidak? Konfliknya tentang keengganan mengakui sosok perempuan sebagai ibunya. Dahsyat, kan?

Kang Yudha
Sumber Gambar: Pinterest.com

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *