Menyikapi COVID-19

Sebagaimana biasanya sebagai masyakarat biasa bingung menghadapi COVID-19. Awalnya begitu menakutkan sehingga kebersihan menjadi penting untuk diperhatikan. Ya, sebelum pandemi hidup ini normal saja. Pulang pergi seperti biasa. Berangkat kerja, ke sekolah, ke pasar, ke rumah sakit ke klinik maksudnya tanpa protocol cuci tangan. Kini cuci tangan di air mengalir menjadi salah satu kewajiban kami setelah kembali dari luar rumah.

Sayangnya di tengah pemberitaan yang membingungkan, manakala pemerintah berebut simpati membuat masyakarat kesulitan dan pandemic COVID-19 tidak segera berakhir. Saya pribadi menyayangkan suara pemerintah yang beranak pinak dengan informasi berbeda. Kenapa tidak satu suara agar masyarakt tidak panik, khawatir, bahkan putus asa.

Kerja banyak di-PHK istilahnya dirumahkan. Sekolah diliburkan, kecuali sekolah swasta kucing-kucingan agar tidak kehilangan siswa. Terlebih siswa prasekolah, PAUD dan TK atau RA. Saya tidak bisa bilang-apa-apa kecuali kata sabar ketika seorang tetangga berkeluh kesah dengan pekerjaannya yang terpaksa gulung tikar dan berakibat penghentian karyawan. Beralih profesi menjadi pedagang keliling pun menyisakan dagangan. Pulang kembali ke rumah dengan tidak riang.

Belum lagi anak-anak harus daring tanpa bisa tatap muka dengan teman-temannya di sekolah. Itu yang dirindukan mereka, bersekolah bisa berkumpul dengan teman-teman. Cerita banyak hal hingga main bersama. Sepakbola, kasti, tali karet, atau jajan bersama di kantin kecil sekolah.

Lagi-lagi saya mengurut dada melihat keadaan kami semua. Saya di dalamnya.

Alhasil hampir satu tahun berjalan, bahkan ada yang menghitungnya setahun sejak Desember, protocol kesehatan jadi sering abai. Setiap kali punag ke rumah cuci tangan dang anti baju kini tidak begitu tegas. Kami cape. Sungguh cape sehingga pemandangan di pasar, di jalan-jalan tidak bedanya dengan situasi setahun lalu. Lengang? Justru ramai berkumpul. Polisi pun cape mengingatkan masyarakat. Bukan karena masyarakat butuh hiburan, tetapi butuh makan untuk hidup. Makanya jangan salahkan mereka ketika mengatakan gak apa-apa kami kena COVID, asal bisa membawa makanan untuk keluarga.

Miris, kan. Inilah kejelian pemerintah seharusnya melalui helicopter view melihat keadaan masyarakat bukan “ngumpet” atau ‘koar-koar” tidak mendidik. Kebijakan tumpeng tindih tergantung kepentingan pribadi yang mana yang harus didahulukan. Miris.

Kang Yudha

SUmber gambar: https://www.merdeka.com/peristiwa/jelang-new-normal-masyarakat-diingatkan-tetap-waspada-penyebaran-covid-19.html

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *