Merenung Hari Pahlawan

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu gugur, dan mereka tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23).

Ini terkait dengan rasa bangga bukan jumawa, kalau Indonesia adalah negara besar dengan jiwa pemberaninya. Berani karena benar. Berani ingin berdiri di kaki sendiri. Seperti yang Bung Tomo teriakan. Pekik merdeka dan seruan berjihad. Takbir Allahuakbar mengantarkan pada keberanian sebenarnya. Bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke rumahnya kelak. Bahwa setiap manusia akan menemui Tuhannya. Bahwa manusia akan dicatat seberaba kuat keberaniannya untuk mempertahankan kebenarannya.

Amerika Serikat mencatat tentang keberanian rakyat Indonesia melawan penjajah. Dikatakan sebagai Islam militan yang tidak takut mati. Islam militan yang berani. Islam militan yang membuat gentar para jenderal dan tentara lawan. Ditakuti meskipun bersenjata sederhana. Bambu runcing dan senjata seadanya.

Peristiwa itu dicatat dalam sejarah sebagai keberanian rakyat Indonesia yang dikenal sangat nerimo. Tidak neko-neko. Namun, tatkala disentuh aqidahnya. Jangan tanya, betapa besar kesediaan berkorban. Nyawa taruhannya.

Ya, seperti Bung Hata mencatatkan tentang pahlawan, bahwa pahlawan yang setia itu berkorban bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-citanya.

Saya merenung membaca tulisan kalimat pendeknya. Mengaitkan dengan kehidupan hari ini yang penuh topeng. Ada pemimpin yang cuma berani di belakang rakyatnya. Ada rakyat yang mau menerima suap walau nilainya sebungkus mie instan. Ada wakil rakyat yang hanya memikirkan diri dan golongannya saja. Jiwa pedagang yang tumbuh memang dari pedagang bukan dari wakil rakyat yang membela kaumnya. Berdiri di belakang bukan di depan sebagai ksatria karena sumpah yang sudah diucapkan. Sumpahnya kepada Sang Pengatur Hidup hanya diteriakan di atas podium besar. Sementara kerja-kerjanya lebih memikirnya dirinya dan segelintir orang.

Saya merenung dengan keadaan sekarang. Kenapa mereka lupa terhadap perjuangan para mujahid yang tidak pernah minta dibalas di dunia. Mereka kekal mendapat jalan pulang sesungguhnya dan percaya bahwa dunia hanyalah tempat berjuang sebenar-benarnya berjuang. Biarlah hanya kepada Allah, Tuhan sekalian alam yang telah menciptakan dan memberi kemampuan mengorbankan diri sebagai pahlawan sesungguhnya.

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *