Pahlawan Lingkungan

Tahukah Anda bahwa Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik kedua di dunia setelah China? Kali ini santri dan santriwati dari PESANTREN MASYARAKAT DIGITAL melakukan OPERASI SAMPAH di sekitar areal TABULAMPOT (Tanaman Buah dalam Pot). Merapikan puing-puing tanpa diplester semen agar curah hujan dapat turun langsung terserap ke dalam tanah. Berantakan sih. Gak pa-pa, yang penting belajar bagaimana caranya SIRKULASI AIR dapat terjadi normal sesuai kodratnya. Kita belajar membersihkan sampahnya agar tidak mencemari lingkungan. Apakah setelah itu selesai? Oh tentu tidak secepat itu. Masih banyak PR di daerah kami. Kesadaran masyarakat, kesadaran tentang bahaya sampah. Masa sih dalam enam tahun ke depan tidak berubah? Santri dan santriwati sudah memulai sejak dini loh. Semua sampah plastik dari bungkus makanan mereka dibawa kembali ke rumah dan dibuang ke tempat sampah di rumah masing-masing, karena PESANTREN BUKAN TEMPAT BUANG SAMPAH. Paham, kan. Yuk sama-sama kita galakkan kegiatan yang SEDERHANA ini. Doakan ya teman, agar kami istiqomah.

Oh ya terkait habit nih, teman-teman. Perlu sabar dalam menjalani kegiatan bersih-bersih, baik pada diri sendiri, di lingkungan sendiri, maupun di lingkungan luarnya.

Maksudnya apa nih?

Jadi untuk menjadi PAHLAWAN KEBERSIHAN yang memang tidak popular, tidak perlu modal sebenarnya. Hanya diperlukan niat dan tindakan. Setelah itu diulangi lagi, diulangi lagi, dan terus diulangi lagi.

Darimana dimulai? Mudah kok. Dari diri sendiri, yaitu tubuh sendiri. Kalau kotor, ya cuci dong. Cuci tangan, cuci wajah, cuci kaki, cuci badan alias mandi. Baju yang sudah terpakai segera ganti karena di baju yang dipakai itu menyerap keringat sewaktu jalan di luar rumah atau beraktivitas pada umumnya. Karena Indonesia berada di daerah khatulistiwa dengan kelembaban tinggi, maka sangat mudah tubuh mengeluarkan keringat. Nah keringat yang diresap baju akan membuatnya basah. Sementara kotoran yang berterbangan amat mudah menempel di benda yang basah. Jadi baju tadi pastilah jadi kotor oleh debu yang berterbangan, kuman, maupun penyakit yang banyak berada di lingkungan kotor, apalagi di jalan misalnya.

Kemudian dari lingkungan sendiri. Rumah atau kamar tidur sendiri misalnya. Rapid an bereskan. Ada sisa debu dari luar yang menempel pada rumah dan kamar. Coba saja kebut-kebut dengan sapu lidi. Ada debu yang terbang, kan. Ada kotoran kecil dan lama-lama jika didiamkan jadi banyak juga.

MAU BUKTI? Lihat deh rumah yang lama tidak dihuni. Misalkan ditinggal pemiliknya selama seminggu. Apa yang terjadi? Ada banyak kotoran di sana. Ada debu. Rasakan saja lantainya. Terasa ada debu, kan? Nah maka dari itu jangan tunda untuk bersih-bersih rumah. Sapu setiap hari dan juga dipel agar terhindar dari kuma penyakit yang dibawa debu halus tadi.

Satu lagi dari lingkungan luarnya. Contohnya kalau sedang di sekolah, di pasar, di masjid, di tempat-tempat umum. Ada saja sampah dari berbagai jenis. Ada sisa bungkus makanan yang dibuang tidak tepat di tong sampah umum atau kantong kresek yang tidak digunakan lagi. Berserakan bahkan di got-got saluran air. Wajar saja jika setiap tahun ada penggalian got agar lebih dalam, kebanyakan terisi oleh sampah plastik.

Artinya gak mudah kan jadi PAHLAWAN KEBERSIHAN. Ya, paling tidak dimulai dari diri sendiri, kamar, rumah terus merembet ke lingkungan luar rumah. Bisa kok, asal ada kemauan pasti ada jalan. Yuk buat komunitas PAHLAWAN KEBERSIHAN agar tidak bekerja sendiri. Paling asyik kalau rame-rame, bukan?

Kang Yudha

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *