Renjana dan Serpihan Doa

Jika kebahagiaan identik dengan kemapanan dan kasih sayang, tak akan pernah singgah di hati nenek Renjana seulas bahagia. Bibirnya tak pernah berhenti merapalkan kalimat doa, sebuah senjata yang menjadikan kehidupannya selalu bermakna. Tak peduli seberapa besar rasa sedihnya karena tak pernah ada rekaman memori tentang ayah tercintanya.Tak jua menyurutkan malam-malam penantiannya untuk mendekat dan menyematkan untaian doa pada Allah Yang Maha Perkasa.
Nenek Renjana, wanita usia senja yang nyaris kesulitan melangkah dengan tubuh rentanya. Sejak kecil saat belum bisa mengeja kata, telah mengalami peristiwa kehilangan. Allah menempanya dengan menggariskan takdir kematian pada ayah kandungnya. Sebuah peristiwa yang sangat berat bagi bocah berusia belum genap setahun. Dan di kemudian hari bocah yatim ini menjadi anak asuh yang berpindah-pindah keluarga. Sempat mengalami kekerasan oleh ayah tirinya, pada akhirnya ada beberapa keluarga yang menaruh belas kasihan padanya. Beranjak remaja dalam asuhan paman dan bibinya menjadikan Renjana semakin matang dalam bersikap. Tak pernah mengenal bagaimana manisnya bermanja pada ayah atau ibu, sehingga kemandirian telah mengubah karakter dirinya.
Satu-satunya hal yang sempat menjadikan hidupnya manis adalah saat seorang lelaki gagah yang masih ada hubungan kekerabatan, melamarnya. Renjana menerima dengan sepenuh hati, dan pernikahan meriah digelar pada zaman itu. Namun sudah menjadi sunatullah kehidupan, tak ada rasa manis yang berkepanjangan. Sebab di awal pernikahan, Renjana dan suaminya dililit kemiskinan. Tak ada kasur sebagai alas tidur. Makan ala kadarnya dan lebih banyak hidup nelangsa.
Seperti sudah menjadi takdirnya, Renjana tak mau berputus asa. Diusahakannya membantu suaminya mencari nafkah dengan berjualan makanan dan minuman. Hingga suaminya berhasil menjadi pegawai negeri sipil dengan penghasilan yang cukup memadai. Kehidupan kemudian berlangsung damai hingga anak keempat lahir, dan keluarga Renjana berpindah ke tanah Jawa.
Renjana dan suami melanjutkan perjuangan hidup, membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa. Tapi tak ada yang pernah mengetahui garis kehidupan seseorang. Tidak juga ada yang menyangka, di saat anak keempat Renjana sedang mempersiapkan pernikahannya, tetiba suami Renjana jatuh sakit. Suami yang gagah dan selalu mengantarkan Renjana berobat ke Rumah Sakit justru malah menderita sakit yang lebih parah. Tak berselang lama setelah anak bungsu Renjana menikah, suaminya berpulang ke rahmatullah. Kematian ketiga yang menyapa orang-orang terdekat Renjana setelah sebelumnya ayah dan ibunya mendahului.
Tidak berhenti sampai pada suaminya, Renjana ternyata masih menyisakan air mata, untuk kematian ketiga anaknya di tahun-tahun berikutnya.
Kini nenek Renjana seringkali menyempatkan bangun di sepertiga malam terakhir. Jika ditanya untuk apa, maka beliau akan berkata lirih, “Nenek mendoakan keselamatan bapak nenek yang sudah meninggal. Karena nenek satu-satunya anaknya di dunia ini. Juga keselamatan ibu nenek dan anak-anak- nenek yang sudah tiada. Agar semuanya bisa masuk surga Allah.”
Maka hari-hari nenek Renjana adalah rangkaian hari yang sangat bermakna. Sebab tak hentinya kalimat doa meluncur dari bibirnya. Kini aku menjadi saksi hidupnya, karena aku adalah satu-satunya anak yang masih tersisa.

Sumber gambar : https://maeydaprastyablog.wordpress.com/2017/11/21/sudahi-atau-lanjutkan-semua-adalah-pilihan/

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *