Ruang ICU

Lima belas hari kemudian.
“Ting ting ting ting. Ting ting ting ting.” Alarm telepon genggam Luna berdering.
“Ya. Bagaimana Bayu kedaaan Bapak?” Luna langsung bertanya setelah tahu dari siapa yang meneleponnya.
“Kita perlu berembuk, Kak. Abang Arya juga ada di sini.”
“Berembuk bagaimana?” desak Luna.
“Dokter baru saja menemui kami. Beliau menyampaikan bahwa kondisi bapak sekarang tinggal tergantung dari alat-alat di ruang ICU ini. Walau hasil SWAB-nya negatif, tetapi akan terus dipantau karena gejalanya mirip.”
“Jadi kondisi bapak tidak ada perubahan?” desak Luna sambil berbisik tidak ingin ibunya mendengar percakapan.
“Sebaiknya kita diskusikan di rumah sakit. Kami tunggu Kak Luna ke sini, ya.”
“Baik, selepas zuhur, Kakak ke rumah sakit.”
Luna bertemu dengan saudara-saudaranya di pelataran ruang ICU. Mereka berdiskusi sangat serius. Hal ini terkait kondisi bapak yang tergantung pada alat pernapasan dan peralatan lainnya yang membuat kondisi bapak tetap terjaga, tetapi belum juga sadarkan diri. Detak jantungnya masih berdetak dengan bantuan alat pacu jantung.
“Luna, kita harus pasrah. Gak mungkin bapak tergantung terus dengan alat di ruang ICU ini.” Arya mencoba memberi pemahaman kepada adiknya.
“Saya ikut aja Bang. Dokter juga sudah sampaikan tadi.” Bayu lebih pasrah menerimanya.
“Masyaallah Bang. Kita jadi anak durhaka.” Luna tidak mau menerima saran kakaknya.
“Ini berat Luna. Tapi dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kondisi bapak sebenarnya terus menurun. Dosis obatnya semakin tinggi saja hanya untuk mempertahankannya tetap bertahan. Apa kamu tega?”
“Tapi, bapak harus tetap hidup bersama kita, Bang,” desak Luna.
“Bapak sekarang dalam kondisi syakaratul maut. Jangan siksa bapak dengan peralatan yang sebenarnya tidak dibutuhkan lagi.”
“Tapi bapak harus tetap bertahan, Bang. Kasihan bapak.” Luna mulai meninggi dengan air mata berderai-derai.
“Benar Kak, BIarkan bapak berpulang dengan tenang. Dokter sudah menyampaikan tadi. Sekarang tergantung kita, keluarganya.” Bayu mulai angkat bicara.
Luna terdiam. Pikirannya tidak menentu. Sebagai seorang anak merasa harus berbakti kepada bapaknya, tapi tidak sampai hati melihat bapatnya sekarat tanpa jelas waktunya. Perlahan, Luna melunak. Air matanya masih mengalir. Kini dia berusaha melihat lebih jernih. Berusaha menerima pendapat saudara-saudaranya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang diambilnya bukan menyerah, tapi meringankan bapaknya menemui Tuhannya.
“Terima kasih Luna. Ibu sudah saya beritahu kemarin sewaktu saya datang ke rumah. Ibu sangat terpukul, tapi insyaallah beliau sudah menerimanya. Tugas Bayu menyampaikan kepada ibu. Setelah itu kita sma-sama menemui dokter.”
“Iya, Bang. Biar Bayu jemput ibu ke rumah sakit. Biar kita semua bertemu dokter untuk menyampaikan keputusan kita.”

-bersambung

Kang Yudha
Sumber gambar: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200610164340-20-511910/psbb-surabaya-raya-disetop-beban-rs-disebut-makin-berat

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *