Satu Tak Cukup? Lagi dan Lagi

Satu Tak Cukup? Lagi dan Lagi..
Sudah lama rasanya saya tidak bersinggungan dengan pekerjaan menulis. Meski baru masuk pekan kedua anak-anak melakukan Pembelajaran Jarak Jauh tetapi kami dan sebagian besar orang mungkin sudah merasakan kejenuhan berada di rumah nyaris 24 jam sehari. Untuk sejenak mari kita tinggalkan segala hiruk pikuk mengenai virus Corona yang sedang mewabah di seluruh dunia. Kita coba petik beberapa hikmahnya. Satu hal yang paling saya rasakan adalah ikatan hati (bonding) antar anggota keluarga makin menguat.
Pagi seusai menyelesaikan Al Ma’tsurat, sembari menyeduh jahe hangat, saya memanaskan kembali cemilan olahan kami sekelurga kemarin petang. Cemilan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kalau sebagian warga Jakarta dan sekitarnya menyebut cemilan ini dengan nama “Cilok” singkatan dari Aci Dicolok. Mengapa disebut demikian? Karena Cilok berbahan dari tepung Tapioka (Aci) dan cara memakannya biasanya dengan ditusuk (dicolok). Sedangkan dulu ketika di Jawa Timur saya mengenal makanan ini dengan nama Pentol, semacam bulatan bakso yang di dalamnya kosong tak berisi daging. Jika di Jawa Timur, pentol berbalut saus tomat KW  yang berwarna merah menyala, maka kalau di Jakarta Cilok berbalut saus kacang yang rasanya gurih nikmat. Ketika menikmati Cilok rasanya tak cukup bila hanya satu.. jadi harus tambah lagi dan lagi…
Mungkin tidak ada yang istimewa dengan cilok, karena mudah sekali menemukannya di pedagang kaki lima pinggir jalan. Tetapi yang kami rasakan adalah kehangatan keluarga ketika mengolahnya. Di sana ada pembagian peran yang cukup bagus. Saya kebagian menyiapkan bumbu dan sausnya, sedangkan suami dan anak membuat adonan hingga membentuknya menjadi bulatan-bulatan kecil. Kehangatan yang menyisakan kerinduan setiap kali usai membuatnya, sebab hati kami saling bertaut ketika menyelesaikan tugas masing-masing. Ada sisipan obrolan ringan tentang apa saja yang sedang viral saat-saat seperti ini.
Ternyata dalam kondisi negara yang cukup mengkhawatirkan, Alhamdulillah masih ada kebahagiaan yang tersisa. Tipsnya cukup sederhana, matikan televisi, jaga jarak dengan media sosial, dekatkan diri pada Allah dan rekatkan hubungan kekeluargaan. In syaa Allah di sana masih ada harapan masa depan yang membaik.
Semoga Allah menjawab setiap pinta kita agar Indonesia kembali terbebas dari segala macam marabahaya virus Corona dan mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Wallahu’alam bi Shawab
Sumbar gambar : https://cookpad.com/id/resep/6445350-cilok-bumbu-kacang

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *