Selamat Jalan, Allah Bersamamu

Selamat Jalan,  Allah bersamamu

Sebut saja Achmad nama panggilannya. Achmad mempunyai seorang uyut yang sudah sangat sepuh. Untuk kali ini Ahmad ingin bercerita singkat bagaimana kebahagiannya terpisahkan karena dampak dari virus yang mematikan yaitu virus 19 atau biasa dikenal virus corona. Kisahhya berawal dari sini.

Achmad menganggapnya sudah seperti uyut sendiri, usianya sudah mencapai 93 tahun, namun masih sangat sehat dan kuat. Uyut memiliki pola hidup dengan disiplin yang tinggi. Beliau tinggal seorang diri, ada mbak yang membantu pekerjaan rumah yang datang pagi hari dan pulang setelah pekerjaannya selesai. Ada keponakan dan saudaranya yang berdekatan rumahnya dengan Uyut juga yang memantau kehidupan Uyut sehari-hari.
Suami Uyut sudah lama meninggal dunia, menurut cerita ibunya Achmad, Uyut juga punya anak dan sudah meninggal juga. Kalau seandainya anaknya masih hidup, umurnya setara dengan umur ibunya Achmad.

Hampir setahun 3 kali Achmad dan keluarga bertandang ke rumahnya yaitu Saat Idul Fitri (kalau tidak mudik), Idul Adha, dan saat tahun baru.

Jasa beliau, subhanallah terhadap keluarga Achmad.
beliaulah yang menampung nenek Achmad yang datang dari Purwokerto untuk berkerja. Bertahun-tahun nenek Achmad ini bekerja di rumah Uyut, hingga akhirnya menikah, dan dari pernikahan itu lahirlah seorang bayi wanita, kelak bayi wanita ini adalah ibunya Achmad.

Uyut lah yang mengurus ibunya Achmad sejak kecil…sampai menikah, beliaulah yang membantu semuanya dari persiapan hingga biayanya. Sama seperti ketika neneknya Achmad menikah.

Dan perhatian itu menurun kepada cucunya yaitu Achmad dan cicit-cicitnya.

Termasuk membiayai keberangkatam ibadah haji Achmad dan keluarga pada tahun 2005.

Tepat tgl 15 Ramadhan 1441 H, Achmad mendapat kabar Uyut jatuh dan harus dibawa dan dirawat di rumah sakit. Achmad pun dan keluarga merasa khawatir kepadanya.

Rencananya Uyut mau dilakukan tindakan operasi karena ada tulang yang patah, sebelum dioperasi dilakukan beberapa kali pemeriksaan dan ternyata ada flek di paru-parunya dan dokter menduga terindikasi corona … 😢.
Betapa sedihnya mendengar kabar ini, Uyut tidak bisa dijaga oleh Achmad dan keluarga karena harus dipindahkan ke ruang isolasi.

Keluarga yang berkunjung pun diharuskan melakukan test untuk memastikan apakah ada gejala corona hasilnya non reaktif, namun harus melakukan karantina sendiri selama 14 hari.
Achmad dan keluarga tahu aturan kunjungan ke rumah sakit di masa covid ini, tidak bersentuhan fisik, namun aturan itu mendadak hilang dari ingatan karena didorong rasa berbakti yg tinggi, kebiasaan rasa hormat yang bertahun tahun yang telah dijalani. Baru tersadar, ketika kabar itu datang. Hasil rontgen Uyut ada flex terindikasi virus corona. Walapun masih menunggu hasil akhirnya yang belum keluar.

Disaat beliau terduga terindikasi, semua berubah.
Keluarga tidak boleh ada yang menemani sampai membesuknya. Uyut sendirian dalam pengawasan dokter dan perawat dalam ruangan isolasi.

Achmad dan keluarga hanya mendapatkan berita kondisi Uyut dari pihak rumah sakit dokter jaga di sana.

* Sekitar jam 16.00 Uyut kejang lagi.

* Kondisi dikatakan berat tapi belum kritis

* Saat ini Uyut dalam kondisi stabil

* Apabila kondisi semakin berat akan di masukkan ke HCU karena ruang ICU penuh..

* Di ruang HCU hanya bisa diberikan terapi obat-obatan secara maksimal. Karena di ruang tersebut tidak tersedia pompa jantung, alat pernafasan dan lain-lain.

* Pihak rumah sakit minta salah satu wakil keluarga untuk datang untuk menandatangani surat dari rumah sakit.
(Tidak perlu masuk rumah sakit di depan saja minta security memanggil petugas dari ruangan Uyut di isolasi)

Lalu kabar berikutnya muncul lagi dari pihak rumah sakit.

Kejang itu diakibatkan oleh supply oxygen ke otak yang kurang. Hal ini membuat supply oxygen ke organ-organ tubuh lainnya pun kurang juga, terutama ke jantung.
Akibatnya terjadi perlemahan jantung, pompa jantung menjadi tidak bagus, sehingga organ lain mengalami pemburukan.

Kejang bisa mengakibatkan gagal nafas karena pada saat kejang jalan nafas tertutup dan bisa terjadi penurunan kesadaran (koma).
Ini yg terjadi pada Uyut.

Kabar mengkhawatirkan itupun datang.
Beliau dalam kondisi kritis, keluarga diminta untuk tetap tenang dan salah satu dokter meminta untuk mentalkinkannya melalui rekaman suara di hp. (Asyhadualla ilaha illalahu wa asyahadu anna muhammadurasullahu)
Agar hp itu bisa didekatkan ke telinga Uyut.

Setelah itu sepi tidak ada info atau kabar apapun dari rumah sakit.

Tiba-tiba masuk sebuah pesan WA ke Hp Achmad. Di pesan itu tertulis

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun

Uyut meninggal beberapa menit yang lalu.

Semua terdiam tanpa bisa berkata-kata hanya lantunan doa yang hanya dapat terucap melalui hati.

Uyut meninggalkan dunia ini tanpa ada keluarga di sisinya yang menemani.

Termasuk ketika menuju ke tempat peristirahatannya yg terakhir pihak keluarga dilarang pihak rumah sakit.
Mengurus, ikut serta dalam prosesi pemakamannya semua itu dilarang.

Pihak rumah sakit tidak mau ambil risiko, walaupun hasil akhirnya belum keluar, tapi prosedur penanganan pemakaman jenazah covid diberlakukan.

Achmad dan keluarga hanya bisa pasrah. Berdiam di rumah…sholat ghaib di rumah, berdoa di rumah,…semua itu dilakukan sambil menatap fotonya…hanya…fotonya
Foto Uyut..

Sekarang jenazah telah dimakamkan dengan diiringi doa-doa yg tulus dari kami yang selalu menyayanginya yang hanya bisa berdoa dari rumah.

Tinggal papan nisannya yang belum terpasang.

Achmad bertekad akan mencari informasi di mana makamnya kemudian akan memasang papan nisannya di kuburannya.
Agar dapat dikenali. Di sinilah dimakamkan seorang yang sangat berjasa terhadap Achmad yang mengajarkan berbagai banyak hal, termasuk kesederhanaan.

Setelah Uyut dimakamkan, keluarlah kabar hasil tes CPRnya dari pihak rumah sakit.

Bahwasannya Uyut tidak tertedeksi atau tidak ada gejala corona.

Sedih.

Cileungsi
20 Ramadhan 1441 H.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *