Serius?

“Emang kenapa?’ tanyaku lugu.

“Lama OSPEK-nya. Belum lagi bisa gak lulus, entar. Malah nyusahin orang tua.” Senior itu tegas menekankan jawabannya.
Aku menatap heran.

“Lihat aja. Gak banyak yang jadi warga asrama ini. Tuh asrama sepi.” Sambil sinis menyuruhku melihat kamar-kamar yang kosong.

Ada dua lantai setelah aku lihat masuk ke belakang. Ruang tamu yang sangat luas tepat di depan tangga yang dibuat curam karena dekat dengan jalan umum.. Dua pintu terbuka langsung mengarah ke lorong panjang. Bentuk letter L. Demikian juga lantai atasnya yang mengikuti bangunan lantai satu. Mungkin agar tidak boros tempat saat dibangun dulu. Setiap kamar terdiri dari empat tempat tidur. Dua di sebelah kiri pintu masuk dan dua lagi di sebelah kanan. Ruangannya luas. Aku belum pernah melihat ruang kos sebesar ini. Tempat tidur bertingkat dua dengan desain lama. Tempat tidur lipat yang sangat efisien. Terlihat kuat walau berkesan tua. Jika dilipat keempatnya, bisa digelar dua lapangan tenis meja. Besar, kan.

Persis di atas ruang tamu ada ruang berkumpul. Ada TV besar yang tidak menyala. Ya, saat itu memang sedang sepi. Tidak ada warga yang aku jumpai kecuali mamang dan bibi yang sedang membersihkan asrama. Balkon di depan ruang berkumpul agak menjorok ke depan, bisa mengintip asrama di depannya. Gedung asrama berjajar kokoh di tengah pohon-pohon besar yang tumbuh di halaman luar asrama.

Aku menyapu ke segala penjuru. Handuk dan pakaian dalam disangkutkan di pagar atas, di antara jeruji besi yang berbentuk hati. Biar tidak jatuh saat angin lembah bertiup. Ya, lokasi asrama tepat di bawah Jalan Salak agak ke barat. Suasananya sedikit kumuh. Tertolong dengan karisma gedung yang besar dibalut tembok tebal, khas bangunan tempo dulu. Berlantai teraso hitam yang sering dipijak sehingga terlihat licin mengkilap menambah kesan berwibawa.

Aku segera turun kembali menemui senior tadi. Namun, orangnya sudah menghilang entah di mana. Seakan asrama ini welcome menyambutku untuk segera menjadi penghuninya. Aku tidak merasa cemas seperti yang dia ungkapkan sebelumnya, malah tertantang untuk segera mengambil keputusan bulat menjadi warganya.

“Serius, lu?” tanya Jhon tidak percaya dengan keputusanku tinggal di asrama.

“Dicoba Jhon. Gue rasa emang gak terlalu bersih, tapi nyaman, Jhon. Kemarin pas terakhir kuliah di FKH gue sempetin liat asramanya. Pengen tahu kayak apa. Beneran gue penasaran.”

“Ya udah, elu tanggung sendiri, Da. Paling-paling balik lue cari kosan, entarnya.” Jhon sinis dengan keputusanku.

Tidak apa-apa juga sih. Aku tidak marah kepadanya. Malah bertambah keinginanku untuk segera menjajal ucapan Jhon.

“Coba, berdiri semua. Kenalkan nama-nama kalian,” seru salah satu senior di ruang tamu selepas isya.

-bersambng

Kang Yudha
Sumber gambar: https://kaltim.tribunnews.com/

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *