Serunya Rawa Seribu Binatang

Tiba di kaki bukit, Kuna menghentikan perjalannya. Kuna memberitahu Gamal dan Gala untuk lebih waspada. Mereka akan menembus air terjun dan masuk ke dalam Gua Kewa, guanya para kelelawar yang mendiaminya.

“Kita akan masuk ke dalamkah? Apa aku muat, Kuna? Apa para kelelawar tidak akan terganggu?” Gamal dengan beruntun. Ada kekhawatiran yang membuat Gamal merasa sulit menempuh perjalanan kali ini.

“Tenang, Gamal. Air terjun itu kelihatan saja sempit, tapi setelah kita menerobos ke dalam, lapang kok. Oh ya, para kelelawar akan mencari makan selepas matahari tenggelam. Besok pagi mereka akan kembali ke Gua Kewa lagi.”

“Alhamdulillah kalau begitu. Jangan sampai aku tertahan di dalam gua,” kata Gamal lagi.

“Insyaallah tidak, Gamal. Temanku Gali pasti sudah memikirkannya.
“Kalau gitu, ayo kita lanjutkan perjalanan.” Gamal jadi bersemangat lagi.
Mereka melanjutkan perjalanan menembus Gua Kewa dengan ruang besar dan gelap. Kata Kuna, di bagian dalam gua itu gelap abadi. Untunglah Kuna dan teman-temannya membantu perjalanan Gamal dan Gala. Tidak terasa perjalanan mereka berlangsung hampir sepuluh jam. Suasana di dalam gua lebih hangat karena tertutup dan mengandung guano, yang kandungan fosfor dan nitrogennya sangat tinggi.

Ujung gua berbatasan dengan rawa-rawa. Suasana becek sudah mulai terasa.
“Lihat itu! Di mulut gua sudah terlihat terang. Pastilah matahari sebentar lagi terbit!” seru Gala.

“Alhamdulillah kita sampai.” Kuna menghentikan perjalanannya saat tiba di mulut gua.

“Wah indah sekali pemandangan di sini. Lihat debur ombak dan semburat pagi begitu damai. Suasananya pun berbeda sekali sewaktu di dalam gua. Lebih segar.” Gamal menimpali.

“Nah teman-teman. Kalian sudah kami antar ke wilayah ini. Rawa Seribu Binatang. Di sinilah tempat berkumpul banyak hewan. Berbagai jenis burung bersarang di sini. Tempat banteng berkubang dan hewan lainnya beristirahat mencari air segar untuk kemudian berangkat kembali sesuai hajatnya masing-masing.”

“Terima kasih, Kuna. Kalian sangat membantu perjalanan kami.”

“Jangan khawatir. Nikmatilah keindahan Rawa Seribu Binatang ini. Nanti sore, kami siap antar kembali kalian pulang melewati Gua Kewa lagi.”

“Iya, kami juga tidak ingin terlalu lama, karena orang tua kami pasti khawatir jika kami tidak pulang melebihi izin mereka.”

Sore pun tiba. Gamal dan Gala memutuskan kembali pulang bersama Kuna dan teman-teman melewati jalur Gua Kewa. Pengalaman yang tidak biasa dan sangat menakjubkan. Ya, mereka percaya sehebat-hebatnya berpetualang, paling hebat jika kembali dengan selamat. Itu mereka yakini.

Selepas tiba di daerah Kuna, mereka mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih sebesar-besarnya karena telah dibantu menuju Rawa Seribu Binatang. Gamal dan Gala berjanji akan siap membantu siapa pun teman-teman lainnya seperti yang Kuna dan teman-teman lakukan jika mereka membutuhkan bantuannya. Ada kepuasan tidak terhingga, membantu teman-teman lainnya.

TAMAT

Kang Yudha
Sumber gambar: https://www.tokohkita.co/read/20190121/113/rawa-tertinggi-di-sumatra-ini-terancam-perburuan-dan-cetak-sawah

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *