Stalaktit dan Stalagmit

“Terima kasih ya, Ratih. Sudah membujukku ikut outing. Aku sangat terkesan dengan stalaktit dan stalagmitnya. Indah banget. Subhanallah. Lihat itu, selain stalaktit dan stalagmit, ada juga tiang kapur.”

“Fenomena tiang kapur itu merupakan pertemuan stalagtit dan stalagmit yang terbentuk selama jutaan tahun, loh.” Tanpa menanggapi ucapan terima kasih dari Nisa, Ratih menerangkan tiang kapur yang sempat dibacanya dari gadgetnya sesaat sebelum masuk gua.

“Ada pula kolamnya tuh.”

“Itu namanya sendang, Nis. Informasinya, di dalam Goa Jatijajar ada empat sendang, yakni Sendang Puser Bumi, Sendang Jombor, Sendang Mawar, dan Sendang Kantil yang menjadi sumber aliran sungai.”
Nisa manggut-manggut saja mendengar penjelasan Ratih.

Nisa dan Ratih memeperhatikan stalagtit dan stalagmit di dalam gua. Bagi mereka, ini kesempatannya sebagai model proyeknya di Kelompok Batu Kapur.
*****

“Nis! Jangan lupa kita siapkan proyek kita setelah tutup kelas nanti, ya.” Ratih menegurnya.

“Siap. Berarti bareng Nida, Arman, dan Heru dong.”

“Ya iyalah, Nisa,” seru Ratih.

“Udah aku kasih tau semua. Mereka siap, kok.”

Selepas tutup kelas, Nisa, Ratih, Nida, Arman, dan Heru tidak langsung pulang. Membicarakan proyek stalaktit dan stalagmit kelompok mereka. Seperti penjelasan Nisa bahwa stalaktit dan stalagmit adalah kristal besar yang berproses di gua-gua. Stalaktit terbentuk dari langit-langit gua, sementara stalagmit terbentuk dari dasar gua.

Dibutuhkan baking soda untuk membuat stalagmit dan stalaktit. Pengamatannya sendiri akan berlangsung seminggu. Ratih mengatur pembagian alat dan bahannya.

Bahan yang digunakan selain baking soda atau natrium bikarbonat adalah pewarna makanan, air panas untuk pelarut, dan ‘solusi’ (garam epsom). Sementara alat-alat yang digunakan adalah dua gelas, satu cawan piring, satu sendok, dua paper clips, sepotong benang dengan panjang satu meter.

Mereka sepakat untuk membawa alat dan bahan yang sudah didistribusikan kepada seluruh anggota kelompok dan siap membawanya keesokan hari.
*****

Hari itu, Kelas Lima Stalagmit dibuat heboh oleh Kelompok Batu Kapur. Mereka telah membuat iri kelompok yang lain dengan proyeknya Membuat Stalaktit dan Stalagmit. Sementara kelompok lain masih menyiapkan gagasan proyeknya.

“Tenang, tenang, teman-teman. Biarkan kelompok kami bekerja, ya. Silakan lihat, tapi jangan mengganggu. Hasilnya kita lihat seminggu ke depan. Mumpung sedang istirahat kelas nih.” Ratih memberi pengumuman tidak formal kepada teman-temannya yang penasaran.

Seperti yang sudah mereka pelajari. Mereka segera membuat proyeknya. Pertama-tama melipat benang jadi satu lapis. Kemudian ikat ujung-ujung benang dengan paper clips. Di sini lain membuat larutan jenuh baking soda. Caranya diaduk dengan air panas hingga semua baking soda larut. Tuangkan ‘solusi’ untuk menumbuhkan kristal. Tambahkan pewarna makanan. Setelah larutan jadi, tempatkan gelas yang sudah berisi larutan tadi di sisi cawan piring. Kemudian masukkan ujung benang yang sudah diberi paper clips pada dasar gelas sebagai pemberat. Posisikan benang yang sudah basah menggantung agak mendekati cawan di antara dua gelas.

“Sekarang tinggal ngawasin deh,” kata Nida.

“Bener, Nid.” Ratih tidak mau ketinggalan berkomentar.

“Titik kritisnya saat ada cairan akan menetes pada cawan. Kita perlu kembalikan ke dalam gelas. Semoga ‘solusi’ tadi bisa mempercepat pertumbuhan kristal,” jelas Nisa.

Arman dan Heru hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Nisa.

“Baiklah. Kita sudah melakukan membuat proyek stalaktit dan stalagmit. Jangan lupa untuk terus membaca buku, ya. Browsing aja, terus sekalian nyiapin presentasinya. Arman dan Heru, aku tugaskan menyiapkan ppt-nya, ya. Kalian, kan keren kalau buat slide presentasi,” pinta Ratih.

“Ok. No problem,” jawab mereka semangat.
*****

Benar saja, Kristalnya mulai tumbuh dua hari kemudian. Kelompok Batu Kapur bersorak gembira. Mereka berharap seperti harapan, bahwa dalam waktu seminggu kristalnya sudah tampak berkembang. Stalagmitnya juga sangat mungkin tumbuh dari ujung benang yang menggantung di atas permukaan cawan.

Bu Irine tersenyum melihat tingkah mereka. Dia menangkap jelas semangat belajar yang memuncak. Hal itu juga menular kepada kelompok lain.

Selesai

Kang Yudha
Sumber gambar: https://karawangtoday.com/wp/?p=11093

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *