Tajwid Cinta Ananda

Sore yang cerah, ketika dua gadis cilik masuk menghampiri saya di dalam rumah. Entah mengapa saya mendapati Diva dan Aisyah tidak duduk tenang membaca doa pembuka majelis dan melafalkan surat-surat pendek seperti biasanya. Mereka berlarian kesana kemari, bahkan tak mau membaca buku Iqro’ seperti hari-hari sebelumnya. Saya kewalahan mengejar mereka kesana kemari. Walaupun pada akhirnya mereka bisa diam, tetapi sejurus kemudian mereka menanyakan yoghurt yang selama ini menemani hari-hari mereka mengaji. Saya bersikukuh tidak memberi sebelum mereka mau membaca buku Iqro’ yang kemudian berujung pada aksi ‘ngambek’ Diva. Tanpa disangka kemudian dia meremas buku Iqro’ punya Aisyah dan sreeet.. salah satu lembaran menjadi robek. Saya terkejut melihatnya, berusaha menahan untuk tidak memarahinya.
“Diva, ini buku Iqro’ punya Aisyah sudah kamu robek. Ayo, sekarang kamu minta maaf pada Aisyah”, saya memberi instruksi pada Diva.
“Nggak mau, ini kan bukan punya Aisyah, ini buku punya Ummi Ratih.” Diva menggeleng kuat-kuat.
“Bukan Diva, ini punya Aisyah yang warna hijau. Punya bu Ratih warna hitam.”
“Sama aja” Diva pun berlalu dari hadapan saya.
Tiba-tiba terdengar suara Aisyah menengahi, “Gak apa-apa Div, kita kan temenan.” Saya pun terpengarah, demi mendengar Aisyah yang berbaik hati pada temannya, tanpa beban memaafkan kesalahan yang telah dilakukan Diva.
Terkadang kita memang perlu belajar pada anak-anak tentang arti ketulusan menjalin pertemanan, kebaikan hati yang tercermin dalam sikap dan perkataan.
Di waktu yang lain, saya menantikan kehadiran mereka, hingga pukul 16.30 belum ada yang datang juga.
“Bu Ratih, sore ini Diva masih di Bojong. Aisyah sedang pergi ada keperluan. Abid sepertinya gak mau datang kalau sendirian”, sebuah pesan singkat masuk di grup WA.
Baiklah, saya mengemasi perlengkapan mengaji dan segera beranjak hendak ke dalam. Langkah saya terhenti oleh sebuah suara, “ Wah.. masya Allah, Abid keren mau ngaji meski sendiri.”
Saya sambut tamu kecil dengan mengajaknya masuk ke ruang belajar. Sesuai dengan urutan jadwal, maka usai Abid membaca Iqro’, saya bacakan sebuah buku mengenai makna surat-surat dalam Juz 30 Al Qur’an. Kali ini saya meneruskan surat Al Ikhlas yang menggambarkan keesaan Allah SWT.
Ketika saya menjelaskan bahwa Allah tidak bergantung pada siapapun, berbeda dengan makhlukNya, tetiba terdengar suara pelan, “Allah bisa diserang nggak?”
“Allah itu Maha Segalanya, tidak ada yang menyamainya, tidak ada satupun yang bisa menyerang atau mengalahkanNya.”
“Allah bisa mati? “ Ups.. pertanyaan yang cukup kritis dan mengagetkanku, karena yang bertanya sambil memainkan meja lipatnya, seolah tidak sedang serius.
“Nggak dong Abid, Allah nggak akan mati, selamanya ada.”
“Karena?” Abid masih melanjutkan pertanyaannya
“Karena hanya Allah yang kekal abadi, ada seterusnya dan in syaa Allah kita akan bisa ketemu nanti di surga-Nya.”
Dari sini saya kembali belajar tentang kejujuran dari seorang anak usia pre school yang tidak malu dan takut bertanya. Saya merasa terbantu dengan pertanyaannya, karena itu adalah pertanyaan substansial mengenai aqidah yang memang seharusnya diajarkan pertama kali kepada anak.
Sementara di lain hari, di luar jadwal mengaji anak-anak kompleks, saya mendapati suara dua gadis kecil yang memanggil-manggil nama saya di luar,
“Ummi Ratih.. Ummi Ratih..”
Ketika membuka pintu, saya terkejut dengan tampilan rapi Diva siang itu, mengenakan kaus kaki panjang dan berjilbab.
“Aku mau ngaji sekarang.”
“Oh.. jadwal kita mengaji masih besok, Diva .”
“Sekarang aja, aku mau dibacakan cerita kayak kemarin-kemarin.”
“Besok ya, in syaa Allah”, saya tetap bersikukuh dengan jadwal yang telah ditetapkan, dan merekapun berlalu dari tatapan saya.
Keesokan harinya, saya baru mengetahui jika ternyata di waktu jadwal mengaji, Diva tidak bisa hadir karena mesti menjenguk neneknya di Bojong. Masya Allah, saya menjadi terharu akan semangat anak-anak. Dari Diva saya belajar tentang arti kesungguhan dalam menuntut ilmu. Semoga Allah berikan keistiqomahan hingga akhir hayat.
Dari lubuk hati yang terdalam, saya ikut mendoakan keshalihan mereka,
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
(Rabbi habli minash shalihin)
Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shalih.”
(Al Quran surat Al Qashshash: 110)

Sumber gambar : https://tebuireng.online/kiat-mendidik-anak-saleh-salehah/

Please follow and like us:

About RN Lathifah

Ibu dengan 2 anak lelaki yang mencintai simfoni di pagi hari, birunya langit dan hangatnya mentari. Pernah berkecimpung di dunia penulisan -IFSA- media Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 mendapatkan penghargaan mother awards melalui tulisannya yang berjudul Kasih Ibu Menembus Batas yang diselenggarakan oleh Adfamilia. Beberapa naskahnya sudah diterbitkan, diantaranya ; Kasih Ibu Menembus Batas (indie-2010), Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik Untuk Anakku (Qultummedia), Serpihan Kenangan (Quanta), Asyiknya Menulis (indie-2016), Selaksa Cinta Berjuta Kenangan (SAI publishing), Resonansi Cinta (SAI publishing). Sangat menikmati suasana kelas menulis yang pernah dikelolanya untuk siswi-siswi Sekolah Dasar. Hingga saat ini menjadi kontributor dan editor tetap blog Kelas Kayu.

View all posts by RN Lathifah →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *