Tradisi

Menjadi “transisi” calon warga diuji benar nyalinya, komitmennya, ketahanan bertahannya, dan tentu daya juangnya. Sebulan digembleng dengan fisik dan mental membuat tertatih-tatih mengikuti perkuliahan di kampus.

Aku bahkan pernah tidur saat ujian yang diselenggarakan malam hari. Pastinya karena kecapaian yang tidak terhingga. Setelah menapaki pinggir Kebun Raya, tiba di ruang ujian secara masal dari berbagai jurusan duduk bergeming menghadapi setumpuk lembar soal. Begitu pantat nempel di kursi, kaki rasanya senut-senut. Ada kenikmatan untuk melepas penat berjalan bolak-balik asrama-kampus sejak pagi. Ujung-ujungnya tertidur.

“Da, udah beres lu,” panggil Jhon yang duduk di sampingku.

“Masyaallah. Gue ketiduran. Jam berapa Jhon?” tanyaku sedikit gaduh.

“Gile bener, orang lagi pada stres ngerjain ujian, elu malah tidur. Mantap.”

Tanpa merespon pernyataannya, aku langsung tancap gas menyelesaikan ujian dengan tidak lagi berpikir panjang, yang penting menuliskan jawaban yang ada di kepala dan diusahakan lengkap semuanya. Tepat tanda ujian berakhir, tanpa diperiksa lagi, kuserahkan hasil ujian kepada kakak asisten yang mendekatiku. Alamak, masih selamat, pikirku.

Di akhir sidang penerimaan warga, aku termasuk yang tidak direkomendasikan lulus sempurna. Sepertinya beberapa senior menjegalku lantaran tugas-tugasku belum tuntas. Satu tugas yang begitu berat adalah mendapat foto seorang teman yang diidamkannya. Berat nih. Ya, pendekatan yang aku lakukan sejak tugas diberikan membuat aku salah tingkah sendiri. Khawatir temanku salah sangka. Memang lumayanlah. Manis dan kalem orangnya.

Aku bilang kalau aku butuh foto close up-nya setelah aku dinyatakan diperpanjang masa transisiku. Bisa dibayangkan wajahnya salah tingkah dan manisnya jadi lebih terlihat karena merah pipinya bukan karena tersanjung. Namun, dia merasa terhina.

Kini aku yang salah tingkah. Akhirnya kujelaskan bahwa itu adalah permintaan seorang senior di asramaku yang kesemsem dengannya. Aku mencoba menyakinkan bahwa foto close up-nya bukan untukku dan tidak akan disalahgunakan. Aku berjanji di bawah pohon angsana yang tumbuh tidak lurus di pintu masuk asramanya.

Beruntung sebagai mahasiswi asrama pula yang membuatnya memahami kesulitanku. Lega rasanya setelah close up-nya berhasil aku dapat. Lepas dari jeratan tugas yang nyeleneh itu.

Namun ternyata, masa transisiku belum juga usai. Lantaran seorang senior tidak puas dengan pijitanku. Dianggapnya payah tidak ada tenaganya. Wajarlah, dia minta dipijit di atas pukul sebelas malam saat pulang ke asrama entah darimana. Mataku sudah “kiyep-kiyep” karena sebagian tenagaku terkuras antara bolak-balik asrama-kampus dan menyiapkan kopi “kencing kuda” buat hidangan rapat warga yang selalu tidak ada habisnya. Alhasil dengan pasrah aku menerima penghapusan dosa akibat ketidakmampuanku memijatnya. Baik juga dia. Tadinya kukira masa transisiku bakal bertahan lama.

Alhamdulillah setelah dinyatakan telah menjadi warga melalui rapat warga, aku merasa bebas. Mereka sudah seperti kakak sendiri. Sekarang aku memiliki banyak kakak yang siap membantuku, terutama lolos absen karena terlambat hadir di praktikumnya.

-habis

Kang Yudha
Sumber gambar: https://lifestyle.kompas.com

Please follow and like us:

About Yudha Kurniawan

Yudha Kurniawan, lahir di Bukittinggi (kenal lahir) 4 Juli 1973. Menjadi Writerpreneur sejak 2019. Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat, seperti Semarang, Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah-Malaysia, dan Melbourne-Australia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009) dan memfasilitasi guru menulis di blog kelaskayu.com. Sempat mengelola kelas parenting di Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Menjadi penulis dua puluh satu buku sebelumnya, yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi Cerita Komunitas (Kawan Pustaka, 2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi Artikel Kelas (Audi Grafika, 2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media, 2006), Smart Games for Kids (Wahyu Media, 2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media, 2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing, 2009), Character Building (ProU, 2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing, 2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru, 2016), Jejak-Jejak Rindu - Antologi Cerpen (Mandiri Jaya, 2018), Resonansi Cinta - Antologi Artikel kelaskayu.com (SAI Publishing, 2019), Melarung Rindu - Cerpen Milenial (Media Guru, 2019), Menepis Kabut di Kinabalu - Novel Pendidikan (Media Guru, 2019). Sukses Ujian Bahasa Indonesia SD (Media Guru, 2019), Sukses Ujian Sains SD (Media Guru, 2019), Tumpeng - Novel Antologi (Teman Nulis, 2019), Selaksa Cinta Bunda - Antologi Cerpen Guru (Media Guru, 2019), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Media Guru, 2020), Peti Mayat Koruptor - Antologi Cerpen Anti Korupsi (Gong Publishing, 2020). Saat ini juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok sebagai Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan. Menjadi Pimpinan Redaksi blog kelaskayu.com. Dipercaya menjadi Editor Media Guru dan telah mengedit lebih dari seratus naskah. Aktivitas lainnya, terlibat dalam lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik). Bisa berkoresponden di alamat ykurnie@gmail.com. Aktif di sosial media http://instagram.com/yudhakurnie_, http://facebook.com/yudha.kurniawan.737, http:www.twitter.com/yudhakurnie_

View all posts by Yudha Kurniawan →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *