Wajah Lelah Seorang Ayah

Malam ini, saya keluar rumah menuju sebuah toko buku murah yang cukup terkenal di daerah Depok. Karena ada keperluan kelas yang harus saya  beli di sana.

Kebetulan perjalanan menuju toko buku tersebut melewati beberapa titik macet .  Melihat hal ini saya pun mengambil jalur perumahan untuk menghindari macet itu. Sepi dan gelap itu yang dirasa saat melewati jalan dalam perumahan tersebut. Saat motor saya melaju, saya melihat seorang bapak tua yang sedang duduk di pinggir jalan sepi itu, di sampingnya terdapat beberapa gulungan krey yang terbuat dari bambu yang didirikan.

Muka lelah terpampang di wajah bapak tersebut.

Saat melihatnya, teringatlah almarhum ayahku , dan ayah-ayah lain yang dengan ikhlas banting tulang untuk keluarga di rumah.

Terpanggil hati untuk menegur dan mengobrol dengan bapak itu.

Kuberhentikan motorku di depan bapak tadi. Lalu aku berjalan mendekati bapak tadi. mengobrollah kami. Dengan sksd(sok kenal sok dekat) saya menyapa beliau. Bertanya tentang krey yang beliau tawarkan, dari mulai harga krey, bahan krey, sampai rumah beliau. Ternyata selama dari pagi beliau membawa krey bambu untuk dijual, krey tersebut belum laku terjual, bahkan mungkin beliau belum makan juga.  tanpa diketahui bapak itu, air mata ini menetes, trenyuh hati ini melihat perjuangan bapak itu. Hebatnya seorang ayah dalam  mencari rizki untuk keluarganya.

Saat saya berikan titipan amplop rizki untuk orang lain, bapak itu menolak dan mengatakan, “Maaf neng, saya jualan krey neng, neng mau beli ?”

Decak kagumpun saya rasakan. Terlihat sekali ikhtiar dalam mencari rizki yang halal dan berkahnya.

Sayapun memaksa bapak itu untuk menerima amplop titipan itu. Dengan mengatakan,” pak, saya ini dapat amanah titipan amplop yang merupakan rizki orang lain, saya ingat teman saya berkata, bahwa saat Allah kasih rizki itu kita gak boleh menolak, InsyaAllah ini rizki dari Allah pak, terima ya, dan bapak membantu saya meringankan titipan rizki orang lain di saya”.

Lama sekali bapak itu berpikir, sampai akhirnya beliau menerimanya dan keluarlah doa-doa dari mulut beliau.

MasyaAllah, pelajaran berharga yang saya dapat hari ini, bagaimana saya melihat perjuangan seorang ayah untuk keluarganya, bagaimana seseorang mencari rizki yang halal dan berkah daripada meminta-minta. Dari obrolan dengan bapak ini saya merasa ditegur secara tidak langsung,  kita untuk selalu bersyukur kepada Allah atas kemudahan-kemudahan yang selama ini Allah berikan.

Please follow and like us:
error

About Sulaeha

Saya adalah seorang guru di Sekolah Alam Indonesia. Dan memiliki hobi travelling dan reading. Sedang belajar menuangkan dalam bentuk tulisan tentang hal-hal yang menarik yang saya alami.

View all posts by Sulaeha →

2 Comments on “Wajah Lelah Seorang Ayah”

    1. Iya bu ratih, saat bertemu bapak itu jg saya merasakan bagaimana lelahnya beliau. Saat itu saya bertemu sore menjelang maghrib.
      Hebat sekali ya seorang ayah itu dalam mencari rizki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *